!!

JOM DAFTAR

Kepada pelawat yang dihormati. Dimaklumkan bahawa Forum diskusi ini ditutup untuk pelawat buat seketika.

Pelawat adalah disaran mendaftar bagi membolehkan pengaksesan forum sepenuhnya.  Untuk mendaftar sila e-mel ke dahalan@harmoni-my.org dan nyatakan user id dan pwd.

Pelawat hanya boleh melihat kategori dan tajuk topik sahaja.

JOM DAFTAR.

Oh ya...kalau nak 'donate' sila ke http://harmoni-my.org dan klik aje iklan dari nuffnang tu.....klik kat nuffnang bawah ni pun okay....Pak Ndak

Nak bantu hidupkan komuniti kita. Klik sponsor.

Author Topic: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)  (Read 622 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline AbuMukmin

  • Leftenan Muda
  • *
  • Posts: 79
  • Karma: +0/-0
  • Gender: Male
  • Last Login:January 03, 2012, 02:20:46 PM
  • HIDUP BIARLAH BERKEMUDI

  • Activity
    0%
Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« on: April 19, 2007, 09:28:22 AM »
Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)

Ia bertutur:

Bersamalah dengan Allah, seolah-olah tiada ciptaan.
Bersamalah dengan ciptaan seolah-olah tiada diri. Bila
bersama Allah, Yang Mahakuasa lagi Mahaagung, tanpa
ciptaan, Dia tercapai, dan jauh dari selain-Nya. Bila
bersama ciptaan, tanpa diri, keadilan tergapai,
kebajikan terbantu, dan selamatlah dari kekerasan
kehidupan. Tinggalkanlah segala suatu di luar pintu,
bila memasuki pintu uzlah. Maka terlihat oleh mata
batinmu temanmu dalam uzlah-mu, terasakan hal di luar
ciptaan, lenyaplah diri, dan digantikan oleh
perintah-Nya dan kedekatan-Nya. Maka ketak-tahuanmu
menjadi ketahuanmu, kejauhanmu menjadi kedekatanmu,
kediamanmu menjadi pengingatanmu akan-Nya, dan
kebuasanmu menjadi kekaribanmu. Duhai! Tiada lagi
tersisa di sana, selain Sang Pencipta dan ciptaan.
Maka jika Sang Pencipta telah dipilih, ucapkanlah:
"Sesungguhnya mereka adalah musuh-musuhku, kecuali
Tuhan semesta alam." (QS.26:77)
Barangsiapa telah merasakannya, ia telah
mengetahuinya.

Ia ditanya, "Bagaimana kepahitan mengatasi kemanisan?"
"Mesti berupaya menjauhkan kedirian. Duhai! Bila
seorang mukmin berbuat kebajikan, maka hewaninya
tunduk kepada hati. Bila diri mencapai kesadaran hati,
maka berubahlah hati menjadi suatu rahasia; rahasiapun
berubah menjadi kemusnahan; kemusnahan berubah menjadi
kemaujudan lain," jawabnya. "Kawan bisa mencapai lewat
setiap pintu. Duhai! Peluruhan diri ialah mengingkari
semua ciptaan, merubah sifat menjadi sifat malaikat;
lenyap dari sifat malaikat dan kembali ke semula. Maka
Tuhan menyiramimu sesuka-Nya, dan membajakmu
sesuka-Nya. Bila menghendaki peringkat ini, pilihlah
Islam, dan tunduklah kepada ketetapan-Nya, maka
tergapailah ma'rifat, tersadarilah Ia, termaujudlah
diri di dalam-Nya, dan menjadilah diri milik-Nya.
Kesalehan ialah karya satu jam dan kebertarakan dua
jam, sedang pengetahuan Allah adalah karya abadi,"
lanjutnya.

Ia bertutur:

Kenapa marah kepada Tuhan, karena doa-doa belum
diterima? Kau bilang bahwa tak boleh meminta kepada
orang, dan diperintahkan meminta kepada-Nya, tapi
permohonanmu kepada-Nya tak dikabulkan-Nya. Jawabku:
Bebas atau terikatkah engkau? Jika kau berkata bahwa
kau seorang bebas, berarti kau tidak beriman. Jika kau
bilang bahwa kau seorang budak, kubertanya, salahkah
Tuhan menunda penerimaan doamu. Ragukah kau akan
kearifan dan kasih-Nya kepadamu dan kepada seluruh
ciptaan, dan akan pengetahuan-Nya tentang segala hal
mereka? Kau salahkankah Dia? Jika kau tak
menyalahkan-Nya dan menerima kearifan-Nya dalam
menangguhkan penerimaan doamu, maka wajib bagimu
bersyukur kepada-Nya, sebab Ia telah memilihkan yang
terbaik bagimu. Jika kau salahkan Dia, berarti kau tak
beriman, sebab kau menisbahkan kepada-Nya
ketak-adilan, dan mustahil Dia tak adil. Ingat, Dia
adalah Pemilikmu, Pemilik segalanya. Sang pemilik
berkuasa penuh atas milik-Nya. Maka "Ketak-adilan" tak
layak bagi-Nya. Sebab ketak-adilan ialah
keikut-campuran dalam milikan orang lain, tanpa seizin
pemiliknya.

Nah, jangan kesal terhadap-Nya, karena kehendak-Nya
yang mewujud melaluimu meski tak kau sukai dan, secara
lahiriah, merugikanmu, maka wajib bagimu bersyukur,
bersabar, ridha kepada-Nya, dan mencampakkan kekesalan
dan ketak-patuhan benak dan kedirianmu - hal-hal yang
akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Wajib pula bagimu
senantiasa berdoa, berbaik sangka terhadap-Nya,
menanti saat-saat yang baik, yakin akan janji-Nya,
menunjukkan sikap baik terhadap-Nya, bersesuaian
dengan perintah-Nya, senantiasa mengesakan-Nya, segera
melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauh dari
melakukan hal-hal yang dilarang-Nya.

Dan, salahkan dirimu sendiri, yang berbuat kekejian
dan ketak-patuhan terhadap-Nya, hal ini lebih baik.
Nisbahkanlah ketak-adilan kepada dirimu sendiri, hal
ini lebih layak. Waspadalah akan keserasian dengan
diri, sebab hal ini adalah musuh Allah dan kawan
musuhmu, yakni si Iblis nan terlaknat.

Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah.
Waspadalah, waspadalah. Kutuklah dirimu sendiri,
nisbahkanlah ketak-adilan kepadanya, bacakanlah
kepadanya dirman Allah:
"Adakah Allah menyiksamu, jika kamu bersyukur lagi
beriman?" (QS.4:147)

"Ini dikarenakan perbuatan-perbuatanmu sebelumnya,
sesungguhnya Allah adil terhadap hamba-hamba-Nya."
(QS.3:181)

"Sesungguhnya Allah tak menzalimi, tapi merekalah yang
menzalimi diri mereka sendiri." (QS.10:44)

Bacakanlah bagi dirimu kata-kata ini, ayat-ayat lain
Al-Quran dan sabda-sabda Nabi. Berperanglah melawan
dirimu demi Allah. Jadilah komandan pasukan-Nya, sebab
kedirianmu adalah musuh terbesar di antara musuh-musuh
terbesar Allah.

(dari pesantrenvirtual.com)

Ia bertutur:

Sungguh aneh, kenapa sering berkata, si fulan dekat
kepada Allah, si fulan teranugerahi, si fulan menjadi
kaya, si fulan menjadi miskin, si fulan senantiasa
sehat, si fulan sakit, si fulan mulia, si fulan hina,
si fulan terpuji, si fulan tercela, si fulan
terpercaya dan si fulan tak bisa dipercaya! Tidakkah
kau tahu, bahwa Dia Esa, yang mencintai keesaan, dan
mencintai yang hanya mencintai-Nya? Jika Dia
mendekatkanmu kepada-Nya melalui selain Diri-Nya,
cintamu kepada-Nya menjadi tak benar dan sia-sia.
Akibatnya, cinta kepada-Nya melalui di dalam hatimu
menjadi rusak. Maka Dia menahan tangan orang lain dari
membantumu, dan lida mereka dari memujimu, dan kaki
mereka dari mengunjungimu, agar mereka tak
memalingkanmu dari-Nya. Sudah dengarkah kamu sabda
Nabi Suci saw?

Hati mencintai yang berbuat kebaikan, dan benci kepada
yang berbuat keburukan.

Maka Dia tahan orang dari berbuat kebaikan kepadamu,
hingga kausadari keesaan-Nya, mencintai-Nya dan
sepenuhnya menjadi milik-Nya, sehingga kau tak melihat
kebaikan, kecuali yang berasal dari-Nya, kau lepas
dari ciptaan, kedirian dan dari segala selain Allah.

Melimpahlah karunia dan pujian kepadamu, hingga kau
termuliakan di dunia dan di akhirat.

Janganlah berburuk-laku: Lihatlah yang melihatmu,
perhatikan yang memperhatikanmu, cintailah yang
mencintaimu, ulurkanlah tanganmu kepada yang menjagamu
dari kejatuhan, yang mengeluarkanmudari kegelapan
kejahilanmu, yang menyelamatkanmu dari kehancuran,
yang mensucikanmu dari noda dan kekejian, yang akan
melepaskanmu dari kebusukan iri, dari kedirian, dan
teman-teman sesatmu, dari penggalang jalan menuju
Allah, dan dari segala yang hina dan mempesona.

Berapa lama kau 'kan jijik dengan hewanimu, ciptaan,
ketakpatuhan, dunia, kehidupan setelah mati, dan
segala selain Allah; Kenapa kau begitu jauh dari sang
Pencipta segalanya, yang telah memaujudkan segalanya,
yang awal dan yang akhir, tempat, kembali, yang
milik-Nyalah hati dan kesenangan jiwa, yang memberi
karunia?


Ia bertutur:

Setiap mukmin ragu dan waspada di kala menerima
sesuatu, hingga hukum membolehkannya, sebagaimana Nabi
Suci bersabda:

"Sesungguhnya, si mukmin itu waspada, sedang si
munafik menyambar (segala yang datang kepadanya)."
"Seorang mukmin ragu-ragu, campakkanlah segala
penyebab keragu-raguan, dan ambillah segala yang tak
menimbulakan keragu-raguan."

Seorang mukmin ragu-ragu terhadap segala makanan,
minuman, busana, perkawinan dan segala hal, sebelum
dikukuhkan oleh hukum, bila ia saleh; dikukuhkan oleh
perintah batin, bila ia seorang wali; dikukuhkan oleh
ma'rifat, bila ia seorang badal dan ghauts; dikukuhkan
oleh tindakan-Nya, bila ia dalam keadaan fana.

Lalu datanglah keadaan, yang di dalamnya didapat
segala yang datang kepada orang, perintah batin atau
ma'rifat; tapi bila hal-hal ini bertentangan dengan
keadaan sebelumnya, yang di dalamnya berkuasa
keragu-raguan dan pemudahan, sedang pada keadaan
kedua, berkuasa penerimaan dan penggunaan hal-hal yang
dibutuhkan.

Datanglah keadaan ketiga, yang di dalamnya
penerimaandan penggunaan hal-hal yang dibutuhkan
menjadi rahmat. Inilah hakikat ka-fana-an. Pada
keadaan ini, sang mukmin menjadi kebal terhadap segala
bencana dan pelanggaran hukum, dan segala kejahatan
terjauhkan darinya, sebagaimana Allah yang Mahamulia
berfirman: "Demikianlah, agar Kami palingkan darinya
kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya dia termasuk
hamba-hamba pilihan Kami." (QS.12:24)

Maka sang hamba menjadi terlindung dari segala
pelanggaran hukum. Segala yang datang kepadanya telah
terbersihkan dari segala kesulitan di dunia dan
akhirat, dan demikian selaras dengan kehendak dan
ridha-Nya. Tiada keadaan melebihi ini. Inilah
tujuannya. Inilah yang dimaksudkan bagi kepala-kepala
para wali besar, yang tersucikan, yang memiliki hikmah
- orang yang telah mencapai ambang pintu kenabian.

Ia bertutur:

Orang saleh menerima pahala dua kali lipat. Pertama, karena
penolakannya akan dunia, sehingga ia tak terpesona olehnya,
bertentangan dengan kedirian, dan memenuhi perintah Allah, sehingga
ia terpilahkan darinya. Bila ia menjadi musuh diri, maka ia menjadi
pentahkik kebenaran, pilihan Allah, badal dan arif (yang tahu
kebenaran). Maka ia diperintahkan untuk berhubungan dengan dunia,
sebab kini dalam dirinya maujud sesuatu yang tak dapat dibuang dan
tak tercipta dalam orang lain. Setelah hal itu tertulis, pena takdir
menjadi kering, dan tentangnya Allah telah tahu sebelumnya. Bila
perintah telah dipenuhi, maka ia mengambil bagian duniawinya atau,
dengan menerima ma'rifat, ia berhubungan dengan dunia dengan berlaku
sebagai wahana takdir dan tindakan-Nya, tanpa keterlibatannya, tanpa
keinginannya dan tanpa upayanya - ia dipahalai karena hal ini untuk
kedua kalinya, karena ia melakukan semua ini demi mematuhi perintah
Allah.

Bila dikatakan - bagaimana mungkin kau menyatakan tentang pahala
orang yang telah berada pada maqam ruhani yang sangat tinggi dan
yang, menurutmu, telah menjadi badal dan arif, telah lepas dari
orang, kedirian, kesenangan, kehendak dan harapan akan pahala atas
kebajikannya, orang yang hanya melihat di dalam semua kepatuhan dan
penyembahannya kehendak Allah, kasih-Nya, rahmat-Nya, pemudahan-Nya
dan pertolongan-Nya, dan orang yang percaya bahwa ia hanyalah hamba
hina Allah, tak berhak menentang-Nya, dan melihat bahwa dirinya,
gerak-geriknya dan upaya-upayanya sebagai milik-Nya. Bisakah
dikatakan, tentang orang semacam itu bahwa ia dipahalai, mengingat ia
tak meminta upah atau sesuatu yang lain sebagai balasan bagi
tindakannya, dan tidak melihat sesuatu tindakan sebagai berasal
darinya, tapi memandang dirinya sebagai orang yang hina dan miskin
akan kebajikan? Jika dikatakan demikian, maka jawabannya
adalah: "Kamu telah berkata benar, tapi Allah menganugerahkan rahmat-
Nya baginya, membelainya dengan rahmat-Nya dan membesarkannya dengan
kasih, kelembutan dan karunia-Nya; bila ia telah menahan tangannya
dari hal-hal, dari dirinya, dari meminta kenikmatan-kenikmatan yang
disisihkan bagi kehidupan dan dari menepis kemudharatan yang timbul
darinya, maka ia menjadi seperti bayi yang tak berdaya dalam hal-hal
dirinya, yang diasuh dengan kelembutan rahmat-Nya dan rizki dari-Nya
lewat tangan kedua orang tuanya, yang menjadi pembimbing dna
penjaminnya."

Bila telah Dia jauhkan darinya segala ketertarikan dalam hal-halnya,
maka Ia membuat hati orang condong kepadanya dan melimpahkan kasih
dan sayang-Nya di hati orang, sehingga mereka lembut terhadapnya,
condong kepadanya dan memperlakukannya dengan baik. Dengan begini
segala selain Allah menjadi tak berdaya kecuali dengan kehendak-Nya
dan, menimpali rahmat-Nya, menghamba kepada-Nya di dunia ini dan di
akhirat untuk menjaganya dari segala musibah. Nabi Saw, bersabda:
"Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab
(Al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang saleh."

Ia bertutur:

Mintalah kepada Allah keridhaan akan ketentuan-Nya, atau kemampuan
meluruh dalam kehendak-Nya. Sebab di dalam hal ini terletak
kesenangan dan keunikan besar di dunia ini, dan juga gerbang besar
Allah dan sarana untuk dicintai-Nya. Barangsiapa dicintai-Nya, maka
Ia tak menyiksanya di dunia ini dan di akhirat. Dalam dua kebajikan
ini terletak hubungan dengan Allah, kebersatuan dengan-Nya dan
keintiman dengan-Nya. Jangan bernafsu berupaya meraih kenikmatan
hidup ini, karena hal ini tak dimaksudkan bagimu. Bila hal itu tak
dimaksudkan, maka bodolah bila berupaya mendapatkannya, dan hal itu
juga sangat dikutuk, sebagaimana dikatakan: "Di antara siksa paling
besar ialah berupaya meraih yang tak ditentukan oleh-Nya."Dan bila
hal itu dimaksudkan, hal itu hanyalah kesetiaan yang dibolehkan dan
tersendiri dalam pengabdian, cinta dan kebenaran. Berupaya kera
meraih segala selain Allah Yang Maha Perkasa lagi Mahaagung adalah
syirik. Orang yang berupaya mendapatkan kenikmatan duniawi, tak tulus
dalam cinta dan persahabatannya dengan Allah, siapa pun yang
menyekutukan-Nya, maka ia pendusta.

Begitu pula, orang yang mengharapkan balasan bagi tindakannya adalah
tak ikhlas. Keikhlasan ialah mengabdi kepada Allah hanya untuk
memberi Rabubiyyah, yaitu sifat Allah yang mengatur alam semesta,
pembuluhnya. Orang seperti itu mengabdi kepada-Nya karena Ia adalah
Tuhannya dan patut diabdi, dan wajib baginya berbuat kebajikan dan
patuh kepada-Nya, mengingat bahwa ia sepenuhnya milik-Nya, begitu
pula gerak-geriknya, dan upayanya. Hamba dan segala miliknya milik
Tuannya. Bukankah harus begitu? Sebagaimana telah kami nyatakan,
semua pengabdian merupakan rahmat Allah dan karunia-Nya atas hamba-
Nya, karena Dialah yang memberinya daya bertindak dan daya
mengatasinya.

Maka, senantiasa bersyukur kepada-Nya lebih baik daripada meminta
balasan dari-Nya atas kebajikannya. Kenapa kau berupaya keras meraih
kenikmatan duniawi, bila telah kau lihat sejumlah besar orang, bila
kenikmatan duniawi berlimpah tak berkeputusan, mereka kian sedih,
cemas dan haus akan hal-hal yang tak dimaksudkan bagi mereka? Bagian
duniawi mereka tampak timpang, kecil dan menjijikkan,dan bagian
duniawi yang lain tampak indah dan agung bagi hati dan mata mereka,
dan mulailah mereka berupaya meraihnya meski hal itu bukan hak
mereka. Dengan begini, kehidupan mereka berlalu dan daya mereka
menjadi sirna, dan mereka menjadi tua, kekayaan mereka menjadi habis,
tubuh mereka menjadi renta, kening mereka berkeringat, dam catatan
kehidupan mereka menjadi gelap oleh dosa-dosa mereka, upaya keras
mereka dalam meraih hak orang lain, dan oleh pengabaian mereka
terhadap perintah-Nya. Mereka gagal mendapatkannya, menjadi miskin
dan merugi dalam kehidupan ini dan di akhirat, karena itu, mereka
berupaya mendapatkan pertolongan-Nya untuk mengabdi kepada-Nya.
Mereka tak mendapatkan yang mereka upayakan, tapi hanya memubazirkan
kehidupan duniawi dan akhirat mereka; merekalah seburuk-buruk orang,
sebodoh-bodoh orang, sekeji-keji orang dalam nalar dan batin.

Mereka menjadi ridha kepada takdir-Nya, puas dengan karunia-Nya dan
patuh kepada-Nya. Bagian duniawi mereka datang kepada mereka tanpa
diupayakan dan dicemaskan; mereka menjadi dekat dengan Allah yang
Mahamulia, dan menerima dari-Nya segala yang mereka dambakan. Semoga
Allah menjadikan kita orang-orang yang ridha dengan ketentuan-Nya,
yang meluruh dalam kehendak-Nya dan yang mendapatkan kesehatan dan
kekuatan ruhani untukmelakukan yang dikehendaki-Nya.

Ia bertutur:

Allah menguji sekelompok mukmin yang menjadi khalifah-khalifah-Nya
dan yang memiliki ilmu ruhani, agar mereka berdoa kepadanya, dan Dia
senang menerima doa-doa mereka. Bila mereka berdoa, Ia senang
menerima doa mereka, agar bisa Ia anugerahi kemurahan haknya, sebab
ia memohon kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung di kala
mereka berdoa untuk menerima doa mereka, dan kadang-kadang tidak
segera diterima, bukan karena ditolak. Maka sang hamba Allah mesti
menunjukkan sikap baik di kala ditimpa musibah, dan menelaah apakah
ia telah mengabaikan perintah atau melanggar hal-hal terlarang,
secara nyata atau tersembunyi, atau menyalahkan ketentuan-Nya, karena
lebih sering ia diuji sebagai hukuman atas dosa-dosa semacam itu.
Bila musibah berlalu, dia mesti selalu berdoa, berendah diri, meminta
maaf dan memohon kepada Allah, karena mungkin ujian itu dimaksudkan
untuk membuatnya terus berdoa dan memohon; dan ia tak boleh
menyalahkan Allah karena penundaan pengabulan doanya sebagaimana
telah kami bicarakan.

Ia bertutur:

Barangsiapa lebih menyukai tidur daripada salat malam,
yang membawa ke arah ketakwaan, berarti ia memilih
sesuatu yang buruk, sesuatu yang mematikannya dan
membuatnya acuh tak acuh terhadap segala keadaan.
Sebab, tidur adalah saudara kematian. Karenanya, Allah
tak tidur, sebab Ia bersih dari segala kecacatan.
Begitu pula dengan para malaikat, sebab mereka
senantiasa amat dekat dengan Allah Yang Mahakuasa lagi
Mahaagung. Begitu pula dengan penghuni langit, sebab
mereka sangat mulia dan suci, sebab tidur akan
menghancurkan keadaan hidup mereka. Jadi, kebaikan
terletak pada keberjagaan, sedang keburukan terletak
pada ke-tidur-an dan ketakacuhan terhadap upaya.

Nah, barangsiapa makan, minum dan tidur berlebihan,
maka lenyaplah kebaikan dari dirinya. Barangsiapa
makan sedikit dari yang haram, maka ia serupa dengan
orang yang makan banyak dari yang halal. Sebab sesuatu
yang haram menggelapi iman. Bila iman tergelapi, maka
doa, ibadah dan jihad tak maujud. Barangsiapa makan
banyak dari yang halal berdasarkan perintah Allah,
maka ia menjadi seperti orang yang makan sedikit
dengan penuh pengabdian. Jadi, sesuatu yang halal
ialah cahaya yang ditambahkan pada cahaya, sedang
sesuatu yang haram ialah kegelapan yang ditambahkan
pada kegelapan, yang didalamnya tiada kebaikan; maka
makan sesuatu yang halal dengan berlebihan, tak
merujuk kepada perintah, adalah seperti makan sesuatu
yang haram, dan hal itu menyebabkan tidur, yang di
dalamnya tiada kebaikan.

Ia bertutur:

Kau mungkin dekat kepada Allah atau jauh dari-Nya.

Jika kau jauh dari-Nya, kenapa berlengah diri, tak
berupaya mendapatkan rahmat, kemuliaanmu, keamanan dan
kecukupan diri di dunia ini dan di akhirat. Segeralah
terbang kepada-Nya dengan dua sayap. Sayap pertama
berupa penolakan akan kesenangan, keinginan-keinginna
tak halal; sayap kedua berupa penanggungan kepedihan,
hal-hal tak menyenangkan dan menjauh dari keinginan
duniawi dan ukhrawi, agar bisa menyatu dengan-Nya dan
dekat kepada-Nya. Maka kau peroleh segala yang
diidamkan dan diraih orang. Kau menjadi demikian
terhormat dan mulia. Jika kau termuliakan dengan
kelembutan-Nya, menerima cinta-Nya, dan menerima
kasihsayang-Nya, maka tunjukkanlah perilaku terbaik
dan jangan berbangga diri dengan semua itu, agar kau
tak lalai mengabdi, tak angkuh, tak lazim dan tak
tergesa-gesa. Allah berfirman:
"Sesungguhnya manusia itu amat lazim dan bodoh." (QS.
33:72)
"Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa." (QS. 17:11)

Lindungilah hatimu dari kecondongan kepada orang dan
keinginan-keinginan yang telah kau campakkan, dari
ketaksabaran, dari ketak-selarasan dan dari
ketak-ridhaan kepada Allah di kala ditimpa musibah.
Campakkanlah dirimu ke hadapan-Nya dengan sikap
seperti bola di kaki pemain polo yang menggulirkannya
dengan stiknya, bagai jasad mati di hadapan orang yang
memandikannya, dan bagai bayi di pangkuan ibu. Butalah
terhadap segala selain-Nya agar tak kau lihat sesuatu
pun selain-Nya - tiada kemaujudan, kemudharatan,
manfaat, karunia dan penahan karunia. Anggaplah orang
dan sarana duniawi di kala menderita dan ditimpa
musibah sebagai cambuk-cambuk-Nya yang dengan keduanya
Ia mencambukmu. Dan anggaplah keduanya di kala suka
sebagai tangan-Nya yang menyuapimu.


Ia bertutur:

Seorang mukmin, pertama-tama, menunaikan yang wajib. Bila ia telah
menunaikan yang wajib, maka ia menunaikan yang sunnah. Bila ia telah
menunaikan keduanya, maka ia menunaikan yang tambahan. Nah, bila
seseorang belum melaksanakan yang wajib, sedang ia melaksanakan yang
sunnah, maka hal itu merupakan kebodohan, takkan diterima dan ia akan
hina. Ia seperti orang yang dimeinta untuk mengabdi kepada raja,
namun ia tak mengabdi kepadanya, tapi ia mengabdi kepada hamba sang
raja yang berada di bawah kekuasaannya. Diriwayatkan oleh Ali, putra
Abu Thalib (as), bahwa Nabi Suci saw. berkata: "Ibarat tentang orang
yang menunaikan yang sunnah, padahal ia belum menunaikan yang wajib,
ialah seperti wanita hamil yang keguguran di kala akan melahirkan.
Dengan demikian, ia tak hamil lagi dan tak jadi menjadi ibu."

Begitu pula dengan orang yang beribadah, yang Allah tak menerima
penunaiannya akan yang sunnah, sebelum ia menunaikan yang wajib. Hal
ini juga seperti usahawan yang takkan mendapatkan keuntungan apa pun
sebelum ia mengelola modalnya. Begitu pula dengan orang yang
menunaikan yang sunnah, yang takkan diterima jerih payahnya itu,
sebelum ia menunaikan yang wajib. Begitu pula dengan orang yang
mengabaikan yang sunnah, dan menunaikan hal-hal yang tak ditentukan
oleh aturan apa pun. Nah, di antara kewajiban-kewajiban itu ialah
penjauhan dari yang haram, dari mengabaikan ketentuan-Nya, dari dari
menimpali suara manusia, dari mengikuti kehendak mereka, dari
berpaling dari perintah Allah, dan dari Ketakpatuhan kepada-Nya. Nabi
saw. bersabda: "Tiada kepatuhan, selagi masih berbuat dosa terhadap
Allah."


Ia bertutur:

Seorang tua bertanya kepadaku dalam mimpiku: "Apa yang membuat
seorang hamba Allah dekat kepada Allah?"
Aku berkata: "Proses ini berawal dan berakhir, awalnya yaitu
kesalehan dan akhirnya yaitu keridhaan kepada Allah dan kepasrahan
diri sepenuhnya kepada-Nya."

Ia bertutur:

Nabi Suci saw. bersabda dari Rabnya:

"Barangsiapa senantiasa mengingat-Ku dan tak sempat minta sesuatu pun
dari-Ku, maka akan Kuberikan kepadanya yang lebih baik daripada yang
Kuberikan kepada mereka yang meminta."

Hal ini dikarenakan bila Allah menghendaki seorang mukmin bagi maksud-
maksud-Nya sendiri, maka Ia melalukannya melalui aneka keadaan
ruhani, dan mengujinya dengan aneka upaya dan musibah. Lalu Ia
membuatnya sedih setelah senang, dan membuatnya hampir minta kepada
orang, sedang tiada jalan terbuka baginya; lalu menyelamatkannya dari
meminta dan membuatnya hampir meminjam kepada orang.

Lalu Ia menyelamatkannya dari meminjam, dan membuatnya bekerja
mencari nafkah dan memudahkan baginya. Maka hiduplah ia dengan
perolehannya, dan hal ini selaras dengan sunnah Nabi.

Tapi, kemudian, Ia membuatnya sulit mendapatkan rizki dan
memerintahkannya, lewat ilham, untuk meminta kepada manusia. Inilah
sebuahperintah tersembunyi yang hanya diketahui oleh orang yang
bersangkutan. Dan Ia membuat permintaan ini sebagai pengabdiannya dan
berdosa melecehkannya, sehingga keangkuhannya pupus, kediriannya
hancur, dan inilah pembinaan ruhani. Permintaannya karena dipaksa
oleh Allah, bukan karena kesyirikan. Lalu Ia menyelamatkannya dari
keadaan begini, dan memerintahkannya untuk meminjam kepada orang,
dengan perintah yang kuat yang tak mungkin lagi dielakkan,
sebagaimana halnya dengan keadaan meminta.

Lalu Ia mengubahnya dari keadaan ini, menjauhkannya dari orang dan
hanya bertumpu pada permintaannya kepada-Nya. Maka ia meminta kepada
Allah segala yang dibutuhkannya. Ia memberinya, dan tak memberinya
jika ia tak memintanya.

Lalu Ia mengubahnya dari meminta lewat lidah menjadi meminta lewat
hati. Maka ia meminta kepadanya segala yang dibutuhkannya, sehingga
bila ia memintanya dengan lidah, Ia tak memberinya, atau bila ia
memninta kepada orang, mereka juga tak memberinya.

Lalu Ia menafikannya dari dirinya dan dari meminta baik secara
terbuka maupun tersembunyi. Maka Ia mengaruniainya segala yang
membuat orang menjadi baik, - segala yang dimakan, diminum, dipakai
dan keperluan hidup tanpa upaya atau tanpa diduganya. Maka menjadilah
Ia walinya, dan ini sesuai dengan ayat: "Sesungguhnya waliku adalah
Allah yang telah menurunkan Al-Kitab dan Ia adalah wali para saleh."
("S 7:196)

Maka firman Allah yang diterima oleh Nabi saw. menjadi kenyataan,
yakni, "Barangsiapa tak sempat meminta sesuatu dari-Ku, maka Aku akan
memberinya lebih dari yang Kuberikan kepada mereka yang meminta," dan
inilah keadaan fana dalam Tuhan, suatu keadaan yang dimiliki oleh
para wali dan badal. Pada peringkat ini, ia dikaruniai daya cipta, dn
segala yang dibutuhkannya mewujud atas izin Allah, sebagaimana firman-
Nya di dalam Kitab-Nya: "Wahai anak Adam! Aku adalah Tuhan, tiada
tuhan selain-Ku; bila Kukatakan kepada sesuatu "jadilah", maka
jadilah ia. Patuhilah Aku, sehingga bila kau berkata kepada
sesuatu "jadilah", maka juga, jadilah sesuatu itu."


Ia bertutur:

Ketahuilah bahwa ada dua macam manusia. Yang pertama
ialah manusia yang dikaruniai kebaikan-kebaikan
duniawi. Yang kesua ialah manusia yang diuji dengan
ketentuan-Nya. Manusia yang mendapatkan kebaikan
duniawi, tak bebas dari noda dosa dan kegelapan dalam
menikmati yang mereka dapatkan itu.

Manusia semacam itu bermewah-mewah dengan karunia
duniawi ini. Bila ketentuan Allah datang, yang
menggelapi sekitarnya melalui aneka musibah yangberupa
penyakit, penderitaan, kesulitan hidup, sehingga ia
hidup sengsara, dan tampak seolah-olah ia tak pernah
menikmati sesuatu pun. Ia lupa akan kesenangan dan
kelezatannya. Dan jika kecerahan menimpanya, maka
seolah-olah ia tak pernah mengalami musibah. Sedang
jika ia mengalami musibah, maka seolah-olah tiada
kebahagiaan. Semua ini disebabkan oleh pengabdian
terhadap Tuhannya.

Nah, jika ia telah tahu bahwa Tuhannya sepenuhnya
bebas bertindak sekehendak-Nya, mengubah, memaniskan,
memahitkan, memuliakan, menghinakan, menghidupkan,
mematikan, memajukan dan memundurkan - jika ia telah
tahu semua ini, maka ia tak merasa bahagia di
tengah-tengah kebahagiaan duniawi dan tak merasa
bahagia di tengah-tengah kebahagiaan duniawi dan tak
merasa bangga karenanya, juga tak berputus asa akan
kebahagiaan di kala duka. Perilaku salahnya ini
disebabkan juga oleh ketaktahuannya akan dunia ini,
yang sebenarnya tempat ujian, kepahitan, kejahilan,
kepedihan dan kegelapan. Jadi kehidupan duniawi itu
bak pohon gaharu, yang rasa pertamanya pahit, sedang
rasa akhirnya manis seperti madu, dan tiada seorang
pun dapat merasakan manisnya, sebelum ia merasakan
pahitnya. Tak seorang pun dapat mengecap madunya,
sebelum ia tabah atas kepahitannya. Maka, barangsiapa
tabah atas cobaan-cobaan duniawi, maka ia berhak
mengecap rahmat-Nya.

Tentu, seorang pekerja mesti diberi upah setelah
keningnya berkeringat, tubuh dan jiwanya letih. Maka,
bila orang telah mereguk semua kepahitan ini, maka
datang kepadanya makanan dan minuman lezat, busana
yang bagus dan kesenangan meski sedikit. Jadi, dunia
adalah sesuatu, yang bagian pertamanya ialah
kepahitan, bagai pucuk madu di sebuah bejana yang
berbaur dengan kepahitan, sehingga si pemakan tak
mungkin mencapai dasar bejana, dan yang dimakannya
hanyalah madu murninya sampai ia mengecap pucuknya.

Nah, bila hamba Allah telah berupaya keras menunaikan
perintah Allah, Yang Mahakuasa lagi Mahaagung, menjauh
dari larangan-Nya, dan pasrah kepada-Nya, maka bila ia
telah mereguk kepahitannya, menahan bebannya, berupaya
melawan kehendaknya sendiri dan mencampakkan
maksud-maksud pribadinya, maka Allah mengaruniainya,
sebagai hasil dari ini, kehidupan yang baik,
kesenangan, kasih-sayang dan kemuliaan. Maka
menjadilah Ia walinya dan menyuapinya persis seperti
seorang bayi yang disuapi, yang tak berdaya, yang tak
berupaya keras di dunia ini dan di akhirat, yang juga
seperti pemakan pucuk pahit madu yang mengecap dengan
lahapnya bagian bawah isi bejana. Nah, patutlah bagi
sang hamba yang telah dikaruniai oleh Allah, untuk tak
merasa aman dari cobaan-Nya, untuk tak merasa yakin
akan kekekalannya, agar tak lupa bersyukur atasnya.
Nabi Suci saw. berkata:
"Kebahagiaan duniawi merupakan sesuatu yang ganas;
maka jinakkanlah ia dengan kebersyukuran."

Jadi, mensyukuri rahmat berarti mengakui sang
Pemberinya, Yang Mahapemurah, yaitu Allah, senantiasa
mengingatnya, tak mengklaim atas-Nya, tak mengabaikan
perintah-Nya, dan diiringi dengan penunaian kewajiban
terhadap-Nya, yakni mengeluarkan zakat, membersihkan
diri, bersedekah, berkorban sebagai nazar, meringankan
beban penderitaan kaum lemah dan membantu mereka yang
membutuhkan , yang mengalami kesulitan dan yang
keadaannya berubah dari baik menjadi buruk, yaitu,
yang masa-masa bahagia dan harapannya telah berubah
menjadi kedukaan. Bersyukurnya anasir tubuh atas
rahmat berupa digunakannya anasir tubuh itu untuk
menunaikan perintah-perintah Allah dan mencegah diri
dari hal-hal yang haram, dari kekejian dan dosa.

Inilah cara melestarikan rahmat, mengairi tanamannya
dan memacu tubuhnya dedahanan dan dedaunannya;
mempercantik buahnya, memaniskan rasanya, memudahkan
penelanannya, mengenakkan pemetikannya dan membuat
rahmatnya mewujud di seluruh organ tubuh lewat
berbagai tindak kepatuhan kepada-Nya, seperti lebih
mendekatkan diri kepada-Nya dan senantiasa
mengingat-Nya, yang kemudian memasukkan sang hamba, di
akhirat, ke dalam kasih-sayang-Nya, Yang Mahakuasa
lagi Mahaagung, dan menganugerahinya kehidupan abadi
di taman-taman surga bersama dengan para Nabi Suci,
shiddiq, syahid dan shalih - inilah suatu kebersamaan
yang indah.

Namun, jika tak berlaku begini, mencintai keindahan
lahiriah kehidupan semacam itu, asyik menikmatinya dan
puas dengan gemerlapnya fatamorgananya, yang
kesemuanya bagai embusan sepoi angin dingin di pagi
musim panas, dan bagai lembutnya kulit naga dan
kalajengking; dan menjadi lupa akan bisa mautnya dan
tipuannya - kesemuanya ini akan menghancurkannya -
orang seperti itu mesti diberi kabar-kabar gembira
tentang penolakan, kehancuran yang segera, kehinaan di
dunia ini dan siksaan kelak dalam api neraka nan
abadi.

Cobaan atas manusia - kadang berupa hukuman atas
pelanggaran terhadap hukum dan atas dosa yang telah
diperbuatnya. Kadang berupa pembersihan noda, dan
kadang pula berupa pemuliaan maqam ruhani manusia,
yang baginya rahmat Tuhan semesta terkaruniakan
sebelumnya, yang melalukannya dari bencana dengan
kelembutan, sebab cobaan semacam itu tak dimaksudkan
untuk menghancurkan dan mencampakkannya ke dasar
neraka, tapi, dengan begini, Allah mengujinya untuk
dipilih dan mewujudkan darinya hakikat iman,
mensucikannya dan bersih dari kesyirikan, kebanggaan
diri, kemunafikan, dan membuat karunia cuma-cuma,
sebagai pahala baginya, dari berbagai pengetahuan,
rahasia dan nur.

Nah, bila orang ini menjadibersih ruhani dan jasmani,
dan hatinya menjadi tersucikan, berarti Ia telah
memilihnya di dunia ini dan di akhirat - di dunia ini
yakni melalui hatinya, sedang di akhirat yakni melalui
jasmaninya. Maka segala bencana menjadi pencuci noda
kesyirikan dan pemutus hubungan dengan manusia, sarana
duniawi dan dambaan-dambaan, dan menjadi pelebur
kesombongan, ketamakan dan harapan akan imbalan surga
atas penunaian perintah-perintah.

Cobaan yang berupa hukuman menunjukkan adanya
kekurangsabaran atas cobaab-cobaan ini, dengan
mengaduh dan mengeluh kepada orang. Cobaab yang berupa
pencucian dan penyirnaan kelemahan menunjukkan
maujudnya kesabaran, ketak-mengeluhan kepada sahabat
dan tetangga, penunaian perintah-perintah,
ketakengganan dan kepatuhan. Cobaan yang berupa
pemuliaan maqam menunjukkanadanya keridhaan, kedamaian
dengan kehendak Allah, Tuhan bumi dan lelangit, dan
penafian diri sepenuhnya dalam cobaan ini, hingga
saatberlalunya.



Ia bertutur:

Sesungguhnya doa orang yang berpengetahuan ruhani kepada Allah Yang
Mahakuasa lagi Mahaagung, tak dikabulkan, dan setiap janji yang
dibuat kepadanya tak dipenuhi, agar ia tak hancur karena keterlalu-
optimisan. Sebab setiap keadaan atau maqam ruhani mempunyai ketakutan
dan harap. Dengan demikian, orang yang berpengetahuan ruhani
mengalami kedekatan dengan-Nya, sehingga ia tak menghendaki sesuatu
pun selain Allah. Maka permohonan (sang pengabdi) agar doanya
diterima dan janji kepadanya dipenuhi, bertentangan dengan jalan dan
keadaannya.

Ada dua sebab untuk ini. Pertama ia tak diatasi oleh harapan dan
khayal diri melalui rencana tinggi Allah, dan lupa akan kebaikannya
dalam penghampirannya kepada Allah, sehingga ia hancur. Kedua, hal
itu sama dengan menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Sebab tak satu pun
di dunia ini sepenuhnya bebas dari dosa, kecuali para Nabi. Karena
inilah, Ia tak selalu mengabulkan doanya dan tak memenuhi janji
kepada sang pengabdi, agar ia tak meminta sesuatu pun atas dorongan
hawa nafsunya tanpa mematuhi perintah-perintah-Nya, yang di dalamnya
terletak kemungkinan kesyirikan, dan dalam setiap keadaan, langkah
dan maqam sang salik banyak kemungkinan berbuat kesyirikan. Tetapi
bila doanya selaras dengan perintah, maka hal itu mendekatkan manusia
kepada Allah, semisal salat, puasa, kewajiban-kewajiban lainnya,
sunnah serta kewajiban tambahan, sebab dalam hal-hal ini ada
kepatuhan kepada perintah.


Ia bertutur:

Keadaan ruhani manusia itu: bahagia dan duka. Bila duka, maka timbul
kecemasan, keluhan, ketaksenangan, pencomelan, penyalahan terhadap
perilaku buruk, dosa karena menyekutukan sang Pencipta dengan makhluk
dan sarana-sarana duniawi, dan akhirnya kekafiran. Bila bahagia, ia
menjadi kurban kerakusan, kehinaan hawa nafsu. Bila nafsu
diperturutkan, ia pun menginginkan yang lainnya dan meremehkan
karunia yang dimilikinya; maka ia tak menghargai karunia-karunia ini
dan meminta karunia yang lebih baik lagi, sehingga hal ini
menempatkannya dalam rangkaian kesulitan yang tak berakhir di dunia
ini atau di akhirat, sebagaimana dikatakan:
"Sesungguhnya siksaan paling pedih yaitu bagi pengupayaan yang bukan
bagiannya."

Maka, bila ia dirundung kesulitan yang dikehendaki hanyalah sirnanya
kesulitan itu. Ia menjadi lupa akan segala karunia, dan tidak
menghendaki sesuatupun dari hal ini. Bila ia dikaruniai kebahagiaan
hidup, maka ia kembali menjadi sombong, rakus, membangkang terhadap
Tuhannya dan tenggelam dalam dosa. Ia pun lupa akan kesengsaraannya
ini dan bencana, yang kurbannya adalah dia.

Maka segeralah ia menjadi lebih buruk daripada kala ia diharu-biru
aneka musibah dan kesulitan sebagai hukuman atas dosa-dosanya, agar
ia terjauhkan dari hal-hal ini dan menahannya dari perbuatan dosa di
kemudian hari, setelah kemudahan dan kesenangan tak mengubahnya,
tetapi keselamatannya terletak dalam musibah dan kesulitan.

Andai ia berlaku baik, setelah bencana berlalu darinya, teguh dalam
kepatuhan, bersyukur dan menerima nasibnya dangan senang hati, maka
hal itu lebih baik baginya di dunia ini dan di akhirat. Maka, hidupmu
akan kian bahagia.

Nah, barangsiapa menginginkan keselamatan hidup di dunia ini dan di
akhirat, maka ia harus senantiasa bersabar, pasrah, menghindar dari
mengeluh kepada orang, dan memperoleh kebutuhannya dari Tuhannya,
Yang Mahakuasa lagi Mahaagung, dan membuatnya sebagai kewajiban untuk
mematuhi-Nya, harus menantikan kemudahan dan sepenuhnya mengabdi
kepada-Nya, Yang Mahakuasa lagi Mahaagung. Ia, betapa pun, lebih baik
ketimbang seluruh makhluk-Nya.

Maka Pencabutan oleh-Nya menjadi karunia, Penghukuman-Nya menjadi
rahmat, musibah dari-Nya menjadi obat, janji-Nya terpenuhi. Kemurahan-
Nya merupakan kenyataan yang ada. Kata-Nya merupakan suatu kebajikan.
Tentu, firman-Nya, di kala Ia menghendaki sesuatu, hanyalah ucapan
terhadapnya "Jadilah," maka jadilah ia. Maka, seluruh tindakan-Nya
baik, bijak dan tepat, kecuali bahwa Ia menyembunyikan pengetahuan
tentang ketepatan-Nya dari hamba-hamba-Nya, padahal Ia sendiri
begini. Maka, lebih baik dan layak bagi para hamba untuk berpasrah
dan mengabdi kepada-Nya, yaitu dengan menunaikan perintah-perintah-
Nya, menghindari larangan-larangan-Nya, menerima ketentuan-Nya dan
mencampakkan belaian makhluk - sebab hal ini merupakan sumber segala
ketentuan, menguatnya mereka dan dasar mereka; dan berdiamlah atas
sebab dan masa (kejadian-kejadian), dan jangan menyalahkan gerak dan
diam-Nya. Pernyataan ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan
oleh Abdullah bin Abbas, yang dikutip oleh Ata bin Abbas.

Katanya:
"Ketika aku berada di belakang Rasulullah (saw), beliau berkata
kepadaku, "Anakku, jagalah kewajiban-kewajiban terhadap Allah, maka
Allah akan menjagamu; jagalah kewajiban-kewajiban terhadap Allah,
maka kau akan mendapati-Nya di depanmu.' "

Nah, jika kau membutuhkan pertolongan, mintalah kepada-Nya. Pena
menjadi kering setelah menuliskan segala yang akan terjadi. Dan jika
hamba-hamba Allah berupaya keras memberimu sesuatu yang tak Allah
tentukan bagimu, maka mereka takkan mampu melakukannya. Jika hamba-
hamba Allah berupaya keras merugikanmu, padahal Allah tak
menghendakinya, maka mereka takkan berhasil.

Nah, jika kau bisa bertindak berdasarkan perintah-perintah Allah
dengan sepenuh iman, lakukanlah. Tapi, jika kau tak mampu melakukan
yang demikian, maka, tentu, lebih baik bersabar atas apa yang tak kau
sukai, sembari mengingat bahwa di dalamnya banyak kebaikan.
Ketahuilah, bahwa pertolongan Allah datang melalui kesabaran dan
keridhaan, dan dalam kesulitan itu ada kemudahan. Maka, hendaklah
para mukmin menjadikan hadis ini sebagai cermin bagi hatinya, sebagai
busana lahiriah dan ruhaniah, sebagai slogan, dan hendaklah berlaku
dengannya dalam segala gerak dan diamnya, agar selamat di dunia ini
dan di akhirat, dan semoga mendapatkan kemuliaan darinya, dengan
kasih-sayang Allah, Yang Mahamulia.


Ia bertutur:

Keadaan ruhani manusia itu: bahagia dan duka. Bila duka, maka timbul
kecemasan, keluhan, ketaksenangan, pencomelan, penyalahan terhadap
perilaku buruk, dosa karena menyekutukan sang Pencipta dengan makhluk
dan sarana-sarana duniawi, dan akhirnya kekafiran. Bila bahagia, ia
menjadi kurban kerakusan, kehinaan hawa nafsu. Bila nafsu
diperturutkan, ia pun menginginkan yang lainnya dan meremehkan
karunia yang dimilikinya; maka ia tak menghargai karunia-karunia ini
dan meminta karunia yang lebih baik lagi, sehingga hal ini
menempatkannya dalam rangkaian kesulitan yang tak berakhir di dunia
ini atau di akhirat, sebagaimana dikatakan:
"Sesungguhnya siksaan paling pedih yaitu bagi pengupayaan yang bukan
bagiannya."

Maka, bila ia dirundung kesulitan yang dikehendaki hanyalah sirnanya
kesulitan itu. Ia menjadi lupa akan segala karunia, dan tidak
menghendaki sesuatupun dari hal ini. Bila ia dikaruniai kebahagiaan
hidup, maka ia kembali menjadi sombong, rakus, membangkang terhadap
Tuhannya dan tenggelam dalam dosa. Ia pun lupa akan kesengsaraannya
ini dan bencana, yang kurbannya adalah dia.

Maka segeralah ia menjadi lebih buruk daripada kala ia diharu-biru
aneka musibah dan kesulitan sebagai hukuman atas dosa-dosanya, agar
ia terjauhkan dari hal-hal ini dan menahannya dari perbuatan dosa di
kemudian hari, setelah kemudahan dan kesenangan tak mengubahnya,
tetapi keselamatannya terletak dalam musibah dan kesulitan.

Andai ia berlaku baik, setelah bencana berlalu darinya, teguh dalam
kepatuhan, bersyukur dan menerima nasibnya dangan senang hati, maka
hal itu lebih baik baginya di dunia ini dan di akhirat. Maka, hidupmu
akan kian bahagia.

Nah, barangsiapa menginginkan keselamatan hidup di dunia ini dan di
akhirat, maka ia harus senantiasa bersabar, pasrah, menghindar dari
mengeluh kepada orang, dan memperoleh kebutuhannya dari Tuhannya,
Yang Mahakuasa lagi Mahaagung, dan membuatnya sebagai kewajiban untuk
mematuhi-Nya, harus menantikan kemudahan dan sepenuhnya mengabdi
kepada-Nya, Yang Mahakuasa lagi Mahaagung. Ia, betapa pun, lebih baik
ketimbang seluruh makhluk-Nya.

Maka Pencabutan oleh-Nya menjadi karunia, Penghukuman-Nya menjadi
rahmat, musibah dari-Nya menjadi obat, janji-Nya terpenuhi. Kemurahan-
Nya merupakan kenyataan yang ada. Kata-Nya merupakan suatu kebajikan.
Tentu, firman-Nya, di kala Ia menghendaki sesuatu, hanyalah ucapan
terhadapnya "Jadilah," maka jadilah ia. Maka, seluruh tindakan-Nya
baik, bijak dan tepat, kecuali bahwa Ia menyembunyikan pengetahuan
tentang ketepatan-Nya dari hamba-hamba-Nya, padahal Ia sendiri
begini. Maka, lebih baik dan layak bagi para hamba untuk berpasrah
dan mengabdi kepada-Nya, yaitu dengan menunaikan perintah-perintah-
Nya, menghindari larangan-larangan-Nya, menerima ketentuan-Nya dan
mencampakkan belaian makhluk - sebab hal ini merupakan sumber segala
ketentuan, menguatnya mereka dan dasar mereka; dan berdiamlah atas
sebab dan masa (kejadian-kejadian), dan jangan menyalahkan gerak dan
diam-Nya. Pernyataan ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan
oleh Abdullah bin Abbas, yang dikutip oleh Ata bin Abbas.

Katanya:
"Ketika aku berada di belakang Rasulullah (saw), beliau berkata
kepadaku, "Anakku, jagalah kewajiban-kewajiban terhadap Allah, maka
Allah akan menjagamu; jagalah kewajiban-kewajiban terhadap Allah,
maka kau akan mendapati-Nya di depanmu.' "

Nah, jika kau membutuhkan pertolongan, mintalah kepada-Nya. Pena
menjadi kering setelah menuliskan segala yang akan terjadi. Dan jika
hamba-hamba Allah berupaya keras memberimu sesuatu yang tak Allah
tentukan bagimu, maka mereka takkan mampu melakukannya. Jika hamba-
hamba Allah berupaya keras merugikanmu, padahal Allah tak
menghendakinya, maka mereka takkan berhasil.

Nah, jika kau bisa bertindak berdasarkan perintah-perintah Allah
dengan sepenuh iman, lakukanlah. Tapi, jika kau tak mampu melakukan
yang demikian, maka, tentu, lebih baik bersabar atas apa yang tak kau
sukai, sembari mengingat bahwa di dalamnya banyak kebaikan.
Ketahuilah, bahwa pertolongan Allah datang melalui kesabaran dan
keridhaan, dan dalam kesulitan itu ada kemudahan. Maka, hendaklah
para mukmin menjadikan hadis ini sebagai cermin bagi hatinya, sebagai
busana lahiriah dan ruhaniah, sebagai slogan, dan hendaklah berlaku
dengannya dalam segala gerak dan diamnya, agar selamat di dunia ini
dan di akhirat, dan semoga mendapatkan kemuliaan darinya, dengan
kasih-sayang Allah, Yang Mahamulia.

Ia bertutur:

Barangsiapa meminta sesuatu dari manusia, berarti ia
tak tahu akan Allah, lemah iman, lemah pengetahuan
tentang hakikat, dan tak sabar; sedang barangsiapa tak
meminta, berarti ia amat tahu akan Allah, Yang
Mahakuasa lagi Mahaagung, kuat imannya, kian bertambah
pengetahuan tentang-Nya dan ketakwaan kepada-Nya, Yang
Mahakuasa lagi Mahaagung.


Ia bertutur:

Akan kami paparkan bagimu sebuah misal tentang kelimpahan, dan kami
berkata, "Tidakkah kau lihat seorang raja yang menjadikan seorang
biasa sebagai gubernur kota tertentu, memberinya busana kehormatan,
bendera, panji-panji dan tentara, sehingga ia merasa aman mulai yakin
bahwa hal itu akan kekal, bangga dengannya, dan lupa akan keadaan
sebelumnya. Ia terseret oleh kebanggaan, kesombongan, dan kesia-
siaan. Maka, datanglah perintah pemecatan dari raja. Dan sang raja
meminta penjelasan atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya
dan pelanggarannya atas perintah dan larangannya. Lalu sang raja
memenjarakannya di dalam sebuah penjara yang sempit dan gelap serta
memperlama pemenjaraannya, dan orang itu terus menderita, terhinakan
dan sengsara, akibat ketakaburan dan kesia-siaannya, dirinya hancur,
api kehendaknya padam, dan semua ini terjadi di depan mata sang raja
dan diketahuinya. Setelah itu ia menjadi kasihan terhadap orang itu,
dan memerintahkan agar ia dibebaskan dari penjara, disertai
kelembutan terhadapnya, dianugerahkan kembali busana kehormatan, dan
dijadikannya kembali ia sebagai gubernur. Ia menganugerahkan semua
ini kepada orang itu sebagai karunia cuma-cuma. Kemudian ia menjadi
teguh, bersih, berkecukupan dan terahmati.

Beginilah keadaan seorang beriman yang didekatkan dan dipilih-Nya.

Ia bukakan di hadapan mata hatinya pintu-pintu kasih-sayang,
kemurahan dan pahala. Maka, ia melihat dengan hatinya yang mata tak
pernah melihat, yang telinga tak pernah mendengar, yang hati manusia
tak tahu akan hal-hal gaib dari kerajaan lelangit dan bumi, akan
kedekatan dengan-Nya, akan kata manis, janji menyenangkan, limpahan
kasih-sayang, akan diterimanya doa dan kebajikan, dan akan
dipenuhinya janji serta kata-kata bijak bagi hatinya, yang menyatakan
sendiri melalui lidahnya, dan dengan semua ini Ia sempurnakan bagi
orang ini karunia-karunia-Nya pada tubuhnya, yang berupa makanan,
minuman, busana, istri yang halal, hal-hal lain yang halal dan
pemerhati terhadap hukum dan tindak pengabdian. Lalu, Allah
memelihara keadaan ini bagi hamba beriman-Nya yang didekatkan kepada-
Nya sampai sang hamba beriman-Nya yang didekatkan kepada-Nya sampai
sang hamba merasa aman di dalamnya, terkecoh olehnya dan percaya
bahwa hal itu kekal. Maka, Allah membukakan baginya pintu-pintu
musibah, aneka kesulitan hidup, milikan, istri, anak, dan mencabut
darinya segala karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepadanya sebelum
ini, sehingga ia terkulai, hancur dan terputus dari masyarakatnya.

Bila ia melihat keadaan-keadaan lahiriahnya, maka ia melihat hal-hal
yang buruk baginya. Bila ia melihat hati dan jiwanya, maka ia melihat
hal-hal yang menyedihkannya. Jika ia memohon kepada Allah untuk
menjauhkan kesulitannya, maka permohonannya itu tak diterima. Jika ia
memohon janji baik, ia tak segera mendapatkannya. Jika ia berjanji,
ia tak tahu tentang pemenuhannya. Bila ia bermimpi, ia tak bisa
menafsirkannya dan tak tahu tentang kebenarannya. Bila ia bermaksud
kembali kepada manusia, ia tak mendapatkan sarana untuk itu. Bila ada
sesuatu pilihan baginya dan ia bertindak berdasarkan pilihan itu,
maka ia segera tersiksa, tangan-tangan orang memegang tubuhnya, dan
lidah-lidah mereka menyerang kehormatannya.

Bila ia hendak melepaskan dirinya dari keadaan ini, dan kembali
kepada keadaan sebelumnya, ia gagal. Bila ia memohon agar dikaruniai
pengabdian, ketercerahan dan kebahagiaan di tengah-tengah musibah
yang dialaminya, permohonannya itu pun tak diterima.

Maka, dirinya mulai meleleh, hawa nafsunya mulai sirna, maksud-maksud
serta kerinduan-kerinduannya mulai pupus, dan kemaujudan segala suatu
menjadi tiada. Keadaannya ini diperpanjang dan kian hebat, hingga
sang hamba berlalu dari sifat-sifat manusia. Tinggallah ia sebagai
ruh. Ia mendengar panggilan jiwa kepadanya:
"Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum."
(QS 38:42)

Sebagaimana panggilan kepada Nabi Ayub as. Lalu Allah mengalirkan
samudra kasih-sayang dan kelembutan-Nya ke dalam hatinya,
menggelorakannya dengan kebahagiaan, aroma harum pengetahuan tentang
hakikat dan ketinggian pengetahuan-Nya, membukakan baginya pintu-
pintu nikmat dalam segala keadaan hidup, membuat para raja mengabdi
kepadanya, menyempurnakan baginya nikmat-nikmat-Nya lahiriah dan
ruhaniah, menyempurnakan lahiriahnya melalui makhluk dan rahmat-
rahmat lain-Nya, menyempurnakan ruhaninya dengan kelembutan dan
karunia-Nya, dan membuat keadaan ini berkesinambungan baginya, hingga
ia menghadap-Nya. Kemudian Ia memasukkannya ke dalam yang mata tak
pernah melihat, yang telinga tak pernah mendengar dan yang tak pernah
tersirat dalam hati manusia, sebagaimana firman-Nya:
"Tiada jiwa yang tahu yang disembunyikan bagi mereka, yang akan
mengenakkan mata mereka, balasan bagi yang telah mereka perbuat." (QS
32:17)

Ia bertutur:

Jangan berharap menjadi saleh, jika kau belum menjadi
musuh kedirianmu, dan benar-benar terlepas dari semua
organ tubuhmu, dan terlepas dari semua hubungan dengan
kemaujudanmu, dengan gerak-gerikmu dan kediamanmu,
dengan pendengaranmu dan penglihatanmu, dengan
pembicaraan dan dengan diammu, dengan upaya, tindakan
dan pemikiranmu, dan dengan segala yang berasal
darimu, sebelum kemaujudan ruhanimu mewujud dalam
dirimu. Dan semua itu akan kau dapat setelah
kemaujudan ruhani bersemayam di dalam dirimu, sebab
ini menjadi tabir antara kau dan Tuhanmu. Bila kau
menjadi seorang yang suci jiwanya, bersahaja, rahasia
dari segala rahasia dan yang gaib dari segala yang
gaib, maka kau benar-benar berbeda dengan segala yang
rahasia, dan mengakui segala suatu sebagai musuh,
pengalang dan kegelapan, sebagaimana Ibrahim as
berkata:

"Sesungguhnya mereka adalah musuh-musuhku, kecuali
Tuhan semesta alam." (QS 26:77)

Dia berkata begini terhadap berhala-berhala. Maka
pandanglah segala kmaujudanmu sebagai berhala, begitu
pula ciptaan lainnya, jangan mematuhi mereka dan
jangan mengikuti mereka. Maka kau akan dikaruniai
hikmah, ma'rifat, daya cipta dan keajaiban, seperti
yang dimiliki para beriman di surga.

Keberadaanmu dalam kondisi begini bak terbangkitkan
dari kematian di akhirat. Menjadilah kau perwujudan
kuasa Allah; kau mendengar melalui-Nya, melihat
melalui-Nya, berbicara melalui-Nya, diam melalui-Nya,
senang dan damai melalui-Nya. Dengan demikian, kau
akan tuli terhadap segala suatu selain-Nya: sehingga
kau tak mendapati kemaujudan selain-Nya, sehingga kau
mengetahui hukum dan selaras dengan kewajiban dan
larangan. Maka bila sesuatu kekeliruan ada padamu,
ketahuilah bahwa kau sedang diuji, digoda dan
dipermainkan oleh setan-setan. Maka kembalilah kepada
hukum dan pegang teguhlah ia, dan jagalah dirimu agar
senantiasa bersih dari keinginan-keinginan rendah,
sebab segala yang tak dikukuhkan oleh hukum adalah
kekafiran.

Ia bertutur:

Barangsiapa menunaikan perintah Tuhannya dengan ikhlas dan sungguh-
sungguh, berarti ia mencampakkan segala selain-Nya siang dan malam.
Wahai manusia , jangan mengklaim segala yang tak kau miliki.
Esakanlah Allah, jangan sekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan
jadikanlah dirimu sasaran kehendak-Nya, yang takkan mematikanmu, tapi
melukaimu. Dan siapa pun yang memfanakan diri demi Allah, maka ia
akan memperoleh ganti dari-Nya.

Ia bertutur:

Melakukan sesuatu karena nafsu, bukan karena perintah
Allah, berarti menyimpang dari kewajiban dan menentang
kebenaran. Melakukan sesuatu, bukan karena nafsu,
berarti selaras dengan kebenaran, sedang
mencampakkannya, berarti kemunafikan.

Ia bertutur:

Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kau iri
terhadap tetanggamu yang hidup senang, yang memperoleh
rahmat-rahmat dari Tuhannya? Tidakkah kau tahu bahwa
yang demikian ini melemahkan imanmu, mencampakkanmu di
hadapan Tuhanmu dan membuatmu dibenci oleh-Nya?
Sudahkah kau dengar sabda Nabi bahwa Allah berfirman:
"Seorang yang iri hati adalah musuh rahmat Kami"?

Belumkah kau dengar sabda Nabi: "Sesungguhnya,
keiri-hatian melahap habis kebajikan, sebagaimana api
melahap habis bahan bakar"? Lantas, kenapa kau iri
terhadapnya. Duhai orang yang malang? Baginyakah atau
bagimu? Nah, jika kau iri terhadapnya, lantaran
karunia Allah baginya, maka berarti kau tak selaras
dengan firman-Nya:
"Kami karuniakan di antara mereka rizki mereka rizki
mereka di kehidupan duniawi ini." (QS 43:32)

Berarti kau benar-benar zalim terhadap orang ini, yang
menikmati karunia Tuhannya, yang khusus Dia karuniakan
kepadanya, yang telah dijadikan-Nya sebagai bagiannya
dan yang tidak diberikan-Nya sedikit pun dari bagian
itu kepada orang lain. Nah, siapakah yang lebih zalim,
serakah dan bodoh selainmu? Allah bebas dari kecacatan
seperti itu. Firman-Nya:
"Firman Kami takkan berubah, dan Kami tak menzalimi
hamba-hamba Kami." (QS 1:29)

Sesungguhnya Allah takkan mencabut darimu segala yang
telah ditentukan-Nya bagimu dan takkan memberikannya
kepada selainmu. Maka, lebih baik bagimu iri terhadap
bumi yang menyimpan aneka harta kekayaan, seperti
emas, perak dan batu-batu mulia, yang telah dipendam
oleh raja-raja terdahulu, seperti 'Ad, Tsamud, para
raja serta kaisar Persia dan Romawi - daripada iri
terhadap saudaramu.

Hal ini seperti seorang yang melihat seorang raja yang
memiliki kekuasaan, tentara, kehormatan dan kerajaan,
yang menguasai negeri-negeri, memungut pajak, memeras
mereka demi keuntungan pribadi dan menikmati aneka
kesenangan, tapi tak iri terhadap raja ini, sedang
terhadap seekor anjing buas yang tunduk kepada salah
seekor anjing raja itu, yang bersamanya siang dan
malam, dan diberi sisa-sisa makanan dari dapur
kerajaan, dan hidup dengannya: orang ini mulai iri
terhadap anjing ini, memusuhinya, menghendaki
kematiannya, dan ingin menggantikan kedudukannya
sepeninggalnya, tanpa merasa enggan terhadap dunia,
atau membina sikap agamis dan ridha dengan nasibnya.
Adakah manusia, di sepanjang masa, yang lebih bodoh
daripada orang ini?

Maka, ketahuilah. Duhai orang yang malang! Apa yang
mesti dihadapi oleh tetanggamu kelak pada Hari
Kebangkitan, jika ia tak mematuhi Allah, padahal ia
menikmati karunia-karunia-Nya dan tak memanfaatkan
karunia-karunia itu untuk mengabdi kepada-Nya?
Belumkah kau dengar keterangan ini:
"Sesungguhnya akan ada kelompok-kelompok orang yang
menghendaki, pada Hari Kebangkitan, agar daging mereka
dipisahkan dari tubuh mereka dengan gunting, karena
mereka melihat pahala bagi penderita-penderita
kesulitan."

Maka tetanggamu akan menginginkan , pada Hari
kebangkitan, kedudukanmu di dunia ini, karena
pertanggungjawabannya, kesulitan-kesulitannya,
keberdiriannya selama lima puluh ribu tahun di terik
matahari masa itu, atas kenikmatan hidup duniawi yang
telah direguknya.

Sedang kau akan selamat dari hal ini di bawah naungan
Arsy Allah, sembari makan, minum, bersenang-senang
karena kesabaranmu dalam menghadapi nasibmu dan
keselarasanmu dengan perintah Tuhanmu. Semoga Allah
menjadikanmu orang yang sabar dalam menghadapi
musibah, bersyukur atas rahmat-Nya dan memasrahkan
segala urusannya kepada Tuhan bumi dan langit.


Syeikh Abdul Qadir Jaelani bertutur:

Betapa aneh kau marah kepada Tuhanmu, menyalahkan-Nya dan menggap-
Nya, Yang Mahakuasa lagi Mahaagung, tak adil, menahan rizki, tak
menjauhkan musibah. Tidakkah kau tahu bahwa setiap kejadian ada
waktunya, dan setiap musibah ada akhirnya? Keduanya tak bisa
dimajukan atau ditunda. Masa-masa musibah tak berubah, sehingga
datang kebahagiaan. Masa-masa kesulitan tak berlalu, sehingga datang
kemudahan. Berlaku paling baiklah, diamlah senantiasa, bersabar,
berpasrah dan ridhalah kepada Tuhanmu. Bertobatlah kepada Allah.

Di hadapan Allah tiada tempat untuk menuntut atau membalas dendam
seseorang tanpa dosa dorongan nafsu, sebagaimana yang terjadi dalam
hubungan antarhamba-Nya. Ia, Yang Mahakuasa lagi Mahaagung,
sepenuhnya esa. Ia menciptakan hal-hal dan menciptakan manfaat dan
mudharat. Maka, Ia mengetahui awal, akhir dan akibat mereka. Ia, Yang
Mahakuasa lagi Mahaagung, bijak dalam bertindak dan tiada
ketakselarasan dalam tindakan-Nya. Ia tak melakukan sesuatu pun tanpa
arti dan main-main. Adalah tak layak menisbahkan kecacatan atau
kesalahan kepada tindakan-Nya. Lebih baik menunggu kemudahan, jika
kau merasakan kepudaran kepatuhanmu terhadap-Nya, hingga tibanya
takdir-Nya, sebagaimana datangnya musim panas setelah berlalunya
musim dingin, dan sebagaimana datangnya siang setelah berlalunya
malam.

Nah, jika kau memohon tibanya cahaya siang selama kian memekatnya
malam, maka permohonanmu sia-sia; tapi kepekatan malam kian memuncak
hingga mendekati fajar, siang datang dengan kecerahannya, entah kau
kehendaki atau tidak. Jika kau kehendaki kembalinya malam pada saat
itu, maka doamu takkan dikabulkan. Sebab kau telah meminta sesuatu
yang tak layak. Kau akan dibiarkan meratap, lunglai, jemu dan enggan.
Tinggalkanlah semua ini, senantiasa beriman dan patuhlah kepada
Tuhanmu dan bersabarlah. Maka, segala miikmu takkan lari darimu, dan
segala yang bukan milikmu takkan kau peroleh. Demi imanku, begitulah,
mohonlah pertolongan kepada Allah, dengan mematuhi-Nya. "Mohonlah
kepada-Ku, maka akan Kuterima permohonanmu." (QS 40:60). "Mintalah
kepada Allah karunia-karunia-Nya." (QS 4:32). Mohonlah kepada-Nya,
maka Ia akan menerima permohonanmu pada saatnya, bila dikehendaki-
Nya, dan bila hal itu bermanfaat bagimu dalam kehidupan duniawimu dan
akhirat.

Jangan salahkan Ia bila Ia menangguhkan penerimaan doamu. Jangan jemu
berdoa. Sebab, sesungguhnya jika kau tak memperoleh, kau juga tak
rugi. Jika Ia tak segera menerima doamu di kehidupan duniawi ini,
maka Ia akan menyisihkan bagimu pahala di kehidupan kelak. Nabi
bersabda bahwa pada Hari Kebangkitan hamba-hamba Allah akan mendapati
dalam kitab amalannya amal-amal yang tak dikenalinya. Lalu, kepadanya
dikatakan bahwa itu adalah balasan dari doa-doanya di kehidupan
duniawinya yang tak dikabulkan. Maka dari itu, ingatlah selalu
Tuhanmu, esakanlah Ia selalu dalam memohon sesuatu dari-Nya. Jangan
memohon kepada selain-Nya. Maka, setiap saat, baik siang maupun
malam, sehat atau sakit, suka atau duka, kau berada dalam keadaan:

1) Tak meminta, ridha dan pasrah kepada kehendak-Nya, seperti jasat
mati di hadapan orang yang memandikannya, atau seperti bayi di tangan
perawat, atau seperti bola polo di depan pemain polo, yang
menggulirkannya dengan tongkat polonya. Dan Allah berbuat sekehendak-
Nya. Bila hal itu adalah rahmat, rasa syukur dan puja-puji meluncur
darimu, dan limpahan rahmat datang dari-Nya, Yang Mahakuasa lagi
Mahaagung, sebagaimana firman-Nya:
"Sesungguhnya jika kau bersyukur, tentu akan Kuberikan
kepadamu lebih banyak lagi" (QS 14:7)
Tapi, jika hal itu adalah musibah, maka kesabaran dan kepatuhan
meluncur darimu dengan pertolongan kekuatan yang dianugerahkan oleh-
Nya, keteguhan hati, pertolongan rahmat dan kasih-sayang dari-Nya,
sebagaimana firman-Nya, Yang Mahakuasa lagi Mahaagung:
"Sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar." (QS 2:153)
"Jika kau menolong Allah, maka Ia akan menolongmu dan meneguhkan
pijakanmu." (QS 47:7)

Bila kau telah membantu (jalan) Allah, dengan menentang hawa nafsumu,
tak menyalahkan-Nya, menghindari ketaksenangan dirimu terhadap
kehendak-Nya, menjadi musuh diri demi Allah, siap menyerangnya dengan
pedang bila ia bergerak dengan kekafiran dan kesyirikannya, menebas
kepalanya dengan kesabaran dan keselarasanmu dengan Tuhanmu, dengan
keridhaan terhadap kehendak dan janji-Nya, - jika kau berlaku
demikian, maka Allah akan menjadi penolongmu. Mengenai rahmat dan
kasih-sayang Ia berfirman: "Berilah kabar baik kepada orang-orang
yang sabar, mereka, yang bila ditimpa musibah, berkata: Sesungguhnya
kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Mereka adalah
yang dikaruniai rahmat dan kasih-sayang Tuhan mereka, dan mereka
adalah pengikut-pengikut jalan kebenaran." (QS 2:156-157). Atau

2) Memohon kepada Allah dengan kerendahdirian, dengan mengagungkan-
Nya, dan patuh kepada perintah-perintah-Nya. Ya, berdoalah kepada
Allah, hal itu adalah layak, sebab Ia sendirilah yang memerintahkanmu
untuk memohon kepada-Nya, berpaling kepada-Nya, telah membuat hal itu
sebagai sarana kesenanganmu, semacam utusan darimu kepada-Nya, sarana
penghubung dengan-Nya,dan sarana pendekatan kepada-Nya, asalkan,
tentu saja, kau tak menyalahkan-Nya, marah kepada-Nya, karena
ditangguhkan-Nya penerimaan doamu. Nah, perhatikanlah perbedaan
antara dua keadaan ini. Jangan berada di luar keduanya, sebab tiada
keadaan selain keduanya. Berhati-hatilah agar kau tak berbuat aniaya,
yang melanggar batas. Sehingga Ia akan membinasakanmu dan Ia takkan
memperhatikanmu, sebagaimana dibinasakan-Nya orang-orang yang telah
berlalu di dunia ini, dengan menambah bencana-bencana-Nya, dan di
akhirat, denagn siksa yang amat pedih.

Mahabesar Allah! Wahai yang tahu keadaanku! Kapada-Mulah aku beriman.

Ia bertutur:

Berpantang dari segala yang haram adalah wajib bagimu,
kalau tidak, maka tali kehancuran akan menjeratmu. Kau
takkan lepas darinya, kecuali dengan kasih-sayang-Nya.
Nabi Suci saw. bersabda bahwa asas agama adalah
keberpantang
"JANGAN KAU BAWA SEGUNUNG EMAS KEPADA KU, BAWALAH HATI YANG SUCI HENING BERSIH KEPADA KU"

Offline farel

  • Leftenan Muda
  • *
  • Posts: 124
  • Karma: +2/-3
  • Gender: Male
  • Last Login:March 01, 2011, 06:18:18 PM

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #1 on: June 20, 2007, 10:54:59 PM »
Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)


Jangan salahkan Ia bila Ia menangguhkan penerimaan doamu. Jangan jemu
berdoa. Sebab, sesungguhnya jika kau tak memperoleh, kau juga tak
rugi. Jika Ia tak segera menerima doamu di kehidupan duniawi ini,
maka Ia akan menyisihkan bagimu pahala di kehidupan kelak. Nabi
bersabda bahwa pada Hari Kebangkitan hamba-hamba Allah akan mendapati
dalam kitab amalannya amal-amal yang tak dikenalinya. Lalu, kepadanya
dikatakan bahwa itu adalah balasan dari doa-doanya di kehidupan
duniawinya yang tak dikabulkan.
Maka dari itu, ingatlah selalu
Tuhanmu, esakanlah Ia selalu dalam memohon sesuatu dari-Nya. Jangan
memohon kepada selain-Nya. Maka, setiap saat, baik siang maupun
malam, sehat atau sakit, suka atau duka, kau berada dalam keadaan:



ini yg saya rasa banyak org tak tahu... dan banyak juga org yg lemah berputus asa dan kecewa disebabkan doa yg tak dimakbul.

Offline ibn_ismail

  • Komander
  • *
  • Posts: 1526
  • Karma: +16/-3
  • Gender: Male
  • Last Login:April 04, 2011, 11:25:34 PM

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #2 on: June 22, 2007, 08:30:51 AM »
Maaf tuan, saya nak tumpang tanya...

Yang ni dari kitab tok syeikh yang mana?  :)

Offline anggun

  • Leftenan Muda
  • *
  • Posts: 119
  • Karma: +0/-0
  • Last Login:January 09, 2012, 11:44:44 AM

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #3 on: June 22, 2007, 08:57:41 AM »
Maaf tuan, saya nak tumpang tanya...

Yang ni dari kitab tok syeikh yang mana?  :)
haah..sy pun..yg cover kulit warna hijau tu k?

Offline ryujin

  • Leftenan
  • *
  • Posts: 621
  • Karma: +5/-5
  • Gender: Male
  • Last Login:November 07, 2011, 10:01:45 PM
  • Sabah Tanah AirKu

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #4 on: July 17, 2007, 02:31:02 PM »
Maaf tuan, saya nak tumpang tanya...

Yang ni dari kitab tok syeikh yang mana?  :)
haah..sy pun..yg cover kulit warna hijau tu k?

Rasanya yg ni karya yg hijau tu..rsanya la  :P
Sabah Negeri DiBawah Angin

Offline PenditaGila

  • Leftenan Komander
  • *
  • Posts: 1039
  • Karma: +3/-3
  • Last Login:March 01, 2008, 10:47:00 AM
  • MENUNTUT BIARPUN DIGIGI JALANAN

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #5 on: July 20, 2007, 07:59:20 AM »
Ye la.....hijau tapi apa namanya. :confused5:
SIPENGEMIS HINA,PENCARIAN YANG JAUH...

Offline ryujin

  • Leftenan
  • *
  • Posts: 621
  • Karma: +5/-5
  • Gender: Male
  • Last Login:November 07, 2011, 10:01:45 PM
  • Sabah Tanah AirKu

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #6 on: July 20, 2007, 01:22:06 PM »
Ye la.....hijau tapi apa namanya. :confused5:

al fath ar rabbani..........
Sabah Negeri DiBawah Angin

Offline anggun

  • Leftenan Muda
  • *
  • Posts: 119
  • Karma: +0/-0
  • Last Login:January 09, 2012, 11:44:44 AM

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #7 on: July 23, 2007, 10:05:55 AM »
Hari tu ada member nak hadiahkan pd sy,tp sampai la ni x dpt lagi.Gamaknya kena cari sendiri ler :P

Offline hensem

  • Leftenan
  • *
  • Posts: 804
  • Karma: +5/-26
  • Gender: Male
  • Last Login:April 24, 2012, 03:22:10 PM

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #8 on: August 07, 2007, 04:42:49 PM »
meh aku paste lak.. asarasir:

1: UCAPAN UNTUK PARA PEMBACA
 (Petikan surat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani)

 Sahabat-sahabatku yang dikasihi. Hati kamu adalah seumpama cermin yang berkilat. Kamu mesti membersihkannya daripada debu dan kekotoran yang menutupinya. Cermin hati kamu itu telah ditakdirkan untuk memancarkan cahaya rahsia-rahsia Ilahi.
Bila cahaya dari “Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi…” mula menyinari ruang hati kamu, lampu hati kamu akan menyala. Lampu hati itu “berada di dalam kaca, kaca itu sifatnya seumpama bintang berkilau-kilauan terang benderang…” Kemudian kepada hati itu anak panah penemuan-penemuan suci akan hinggap. Anak panah kilat akan mengeluarkan daripada awan petir maksud “bukan dari timur atau barat, dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkati…” dan memancarkan cahaya ke atas pokok penemuan, sangat tulen, sangat lutsinar sehingga ia “memancarkan cahaya walaupun tidak disentuh oleh api”. Kemudian lampu makrifat (hikmah kebijaksanaan) akan menyala sendiri. Mana mungkin ia tidak menyala sedangkan cahaya rahsia Allah menyinarinya?
Sekiranya cahaya rahsia Ilahi bersinar ke atasnya, langit malam kepada rahsia-rahsia akan menjadi terang oleh ribuan bintang-bintang “…dan berpandukan bintang-bintang (kamu) temui jalan (kamu)…”. Bukanlah bintang yang memandu kita tetapi cahaya Ilahi. Lantaran Allah “…menghiaskan langit rendah dengan keindahan bintang-bintang”. Sekiranya lampu rahsia-rahsia Ilahi dinyalakan di dalam diri batin kamu yang lain akan datang secara sekaligus atau beransur-ansur. Sebahagiannya kamu telah ketahui sebahagian yang lain akan kami beritahu di sini.
Baca, dengar, cuba fahamkan. Langit ketidaksedaran (kelalaian) yang gelap akan dinyalakan oleh kehadiran Ilahi dan kedamaian serta keindahan bulan purnama yang akan naik dari ufuk langit memancarkan “cahaya di atas cahaya” berterusan meninggi di langit, melepasi peringkat yang ditentukan sebagaimana yang Allah telah tentukan bagi kerajaan-Nya, sehingga ia bersinar penuh kemuliaan di tengah-tengah langit, menghambat kegelapan kelalaian. “(Aku bersumpah) demi malam apabila ia senyap sepi…dengan cuaca pagi yang cemerlang…” malam ketidaksedaran kamu akan melihat terangnya hari siang.
Kemudian kamu akan menghirup air wangi kenangan dan “bertaubat di awal pagi” terhadap ketidaksedaran (kelalaian) dan menyesali umur kamu yang dihabiskan di dalam lena. Kamu akan mendengar nyanyian burung bulbul di pagi hari dan kamu akan mendengarnya berkata:
Mereka tidur sedikit sahaja di malam hari dan pada awal pagi mereka memohon keampunan Allah Allah bimbangkan kepada cahaya-Nya sesiapa yang Dia kehendaki.
Kemudian kamu akan melihat di ufuk langit peraturan Ilahi akan matahari ilmu batin mula terbit. Ia adalah matahari kamu sendiri, Lantaran kamu adalah “yang Allah beri petunjuk” dan kamu “berada pada jalan yang benar” dan bukan “mereka yang Dia tinggalkan di dalam kesesatan”. Dan kamu akan memahami rahsia:
Tidak diizinkan matahari mengejar bulan dan tidak pula malam mendahului siang. Tiap sesuatu berjalan pada landasan (masing-masing).
Akhirnya ikatan akan terurai selaras dengan “perumpamaan yang Allah adakan untuk insan dan Allah mengetahui tiap sesuatu”, dan tabir-tabir akan terangkat dan kulit akan pecah, mendedahkan yang seni di bawah pada yang kasar. Kebenaran akan membuka tutupan mukanya.
Semua ini akan bermula bila cermin hati kamu dipersucikan. Cahaya rahsia-rahsia Ilahi akan memancar Padanya jika kamu berhajat dan bermohon kepada-Nya, daripada-Nya, dengan-Nya.
 
 
2: PENGENALAN
Segala puji dan puja untuk Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia yang mengumpul segala pengetahuan di dalam Zat-Nya dan Dia jualah Pencipta segala pengetahuan dengan keabadian. Segala kewujudan bersumberkan  Wujud-Nya. Segala puji bagi Allah lantaran Dia menghantarkan Quran yang mulia yang mengandungi di dalamnya sebab-sebab ia diturunkan iaitu untuk memperingatkan manusia tentang Allah. Dihantarkan-Nya kepada pembimbing yang memandu manusia pada jalan yang benar dengan yang paling Perkasa di antara agama-agama. Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad s.a.w yang tidak diajar oleh makhluk tetapi diajar oleh-Nya sendiri. Baginda s.a.w adalah nabi-Nya yang terakhir, penyambung terakhir pada rantaian kenabian yang diutus kepada dunia yang sedang hanyut di dalam huru hara, yang paling mulia di kalangan nabi-nabi-Nya, dimuliakan dengan kitab suci yang paling suci dan paling mulia. Keturunan baginda s.a.w adalah pembimbing bagi orang-orang yang mencari. Sahabat-sahabat baginda s.a.w adalah pilihan dari kalangan orang yang baik-baik dan murah hati. Semoga kesejahteraan dan keberkatan yang melimpah-limpah dikurniakan kepada ruh-ruh mereka.
Tentu sekali yang paling berharga di antara yang berharga, paling tinggi, permata yang tidak ternilai, barang perniagaan yang paling menguntungkan manusia, adalah ilmu pengetahuan. Hanya dengan hikmah kebijaksanaan kita boleh mencapai keesaan Allah, Tuhan sekalian alam. Hanya dengan hikmah kebijaksanaan kita boleh mengikuti rasul-rasul-Nya dan nabi-nabi-Nya. Orang yang berpengetahuan, yang bijaksana, adalah hamba-hamba Allah yang tulen yang Dia pilih untuk menerima perutusan Ilahi. Dia lebihkan mereka daripada yang lain semata-mata dengan kebaikan rahmat-Nya yang Dia curahkan kepada mereka. Mereka adalah pewaris nabi-nabi, pembantu-pembantu mereka, yang dipilih oleh rasul-rasul-Nya untuk menjadi khalifah kepada sekalian manusia. Mereka berhubungan dengan nabi-nabi dengan perasaan yang amat seni dan kebijaksanaan yang sangat tinggi.
Allah Yang Maha Tinggi memuji orang-orang yang memiliki hikmah kebijaksanaan:
“Kemudian Kami wariskan Kitab itu kepada mereka yang Kami pilih daripada hamba-hamba Kami, tetapi sebahagian daripada mereka menganiayai diri mereka sendiri, dan sebahagian daripada mereka cermat, dan sebahagian daripada mereka ke hadapan dalam kebajikan-kebajikan dengan izin Allah, yang demikian adalah kurniaan yang besar”. (Surah Fatir, ayat 32).
Nabi Muhammad s.a.w bersabda, “Pemegang hikmah kebijaksanaan adalah pewaris nabi-nabi. Penduduk langit mengasihi mereka dan di atas muka bumi ini ikan-ikan di laut bertasbih untuk mereka hingga kepada hari kiamat”.
Dalam ayat lain Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
“Tidak takut kepada Allah daripada hamba-hamba-Nya melainkan orang-orang yang berilmu Pengetahuan” (Surah Fatir, ayat 28).
Nabi Muhammad s.a.w bersabda, “Pada hari pembalasan, Allah akan mengumpulkan sekalian manusia, kemudian mengasingkan yang berilmu di antara mereka dan berkata kepada mereka: ‘Wahai orang-orang yang berilmu. Aku kurniakan kepada kamu ilmu-Ku kerana Aku mengenali kamu. Tidak aku kurniakan hikmah kebijaksanaan kepada kamu untuk Aku hukumkan kamu pada hari ini. Masuklah ke dalam syurga-syurga-Ku. Aku telah ampunkan kamu’ ”.
Segala puji milik Allah, Tuhan sekalian alam lantaran Dia kurniakan makam yang tinggi kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan memelihara mereka daripada dosa dan menyelamatkan mereka daripada diseksa. Dia berkati ahlul hikmah dengan menghampiri mereka.
Sebahagian daripada murid-murid kami meminta supaya kami sediakan sebuah buku yang memadai buat mereka. Sesuai dengan permintaan dan keperluan mereka kami siapkan buku yang ringkas ini Semoga ia dapat mengubati dan memuaskan mereka serta yang lain juga. Kami namakan buku ini “Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar” atau “rahsia dalam rahsia-rahsia yang Kebenarannya sangat diperlukan”. Dalam pekerjaan ini kenyataan di dalam kepercayaan dan perjalanan kami dibukakan. Setiap orang memerlukannya.
Dalam menyampaikan hasil kerja ini kami bahagikannya kepada 24 bab kerana terdapat 24 huruf di dalam pengakuan scui “La ilaha illah Llah, Muhammadun rasulu Llah” dan juga terdapat 24 jam dalam satu hari.
 
3: PERMULAAN PENCIPTAAN
Semoga Allah s.w.t memberikan kamu kejayaan di dalam amalan-amalan kamu yang disukai-Nya dan Semoga kamu memperolehi keredaan-Nya. Fikirkan, tekankan kepada pemikiran kamu dan fahamkan apa yang aku katakan.
Allah Yang Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia berfirman:
“Aku ciptakan ruh Muhammad daripada cahaya Wajah-Ku”.
Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad s.a.w dengan sabdanya: “Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada permulaannya diciptakan-Nya sebagai ruh suci”.
“Mula-mula Allah ciptakan qalam”.
“Mula-mula Allah ciptakan akal”.
Apa yang dimaksudkan sebagai ciptaan permulaan itu ialah ciptaan hakikat kepada Nabi Muhammad s.a.w, Kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah. Dia dinamakan nur, cahaya suci, kerana dia dipersucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalal Allah. Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (Al-Maaidah, ayat 15)
Dia dinamakan akal yang meliputi (akal universal) kerana dia telah melihat dan mengenali segala-galanya. Dia dinamakan qalam kerana dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf.
Roh Muhammad adalah zat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya. Baginda s.a.w menyatakan hal ini dengan sabdanya, “Aku daripada Allah dan sekalian yang lain daripadaku”. Allah Yang Maha Tinggi menciptakan sekalian roh-roh daripada roh baginda s.a.w di dalam alam kejadian yang pertama, dalam bentuk yang paling baik. ‘Muhammad’ adalah nama kepada sekalian kemanusiaan di dalam alam arwah. Dia adalah sumber, asal usul dan kediaman bagi sesuatu dan segala-galanya.
Empat ribu tahun selepas diciptakan cahaya Muhammad, Allah ciptakan arasy daripada cahaya mata Muhammad. Dia ciptakan makhluk yang lain daripada arasy. Kemudian Dia hantarkan roh-roh turun kepada peringkat penciptaan yang paling rendah, kepada alam kebendaan, alam jirim dan badan.
“Kemudian Kami turunkan ia kepada peringkat yang paling rendah”. (Surah Tin, ayat 15)
Dia hantarkan cahaya itu daripada tempat ia diciptakan, dari alam lahut, iaitu alam kenyataan bagi Zat Allah, bagi keesaan, bagi wujud mutlak, kepada alam nama-nama Ilahi, kenyataan sifat-sifat Ilahi, alam bagi akal asbab kepunyaan roh yang meliputi (roh universal). Di sana Dia pakaikan roh-roh itu dengan pakaian cahaya. Roh-roh ini dinamakan ‘roh pemerintah’. Dengan berpakaian cahaya mereka turun kepada alam malaikat. Di sana mereka dinamakan ‘roh rohani’. Kemudian Dia arahkan mereka turun kepada alam kebendaan, alam jirim, air dan api, tanah dan angin dan mereka menjadi ‘roh manusia’. Kemudian daripada dunia ini Dia ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah.
“Kemudian Kami jadikan kamu dan kepadanya kamu akan dikembalikan dan daripadanya kamu akan dibangkitkan sekali lagi”. (Surah Ta Ha, ayat 55)
Selepas peringkat-peringkat ini Allah memerintahkan roh-roh supaya memasuki badan-badan dan dengan kehendak-Nya mereka pun masuk.
“Maka apabila Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiup padanya roh-Ku…”. (Surah Shad, ayat 72)
 Sampai masanya roh-roh itu terikat dengan badan, dengan darah dan daging dan lupa kepada asal usul kejadian dan perjanjian mereka. Mereka lupa tatkala Allah ciptakan mereka pada alam arwah Dia telah bertanya kepada mereka:
“Adakah aku Tuhan kamu? Mereka telah menjawab:Iya, bahkan!.” 
Mereka lupa kepada ikrar mereka. Mereka lupa kepada asal usul mereka, lupa juga kepada jalan untuk kembali kepada tempat asal mereka. Tetapi Allah Maha Penyayang, Maha Pengampun, sumber kepada segala keselamatan dan pertolongan bagi sekalian hamba-hamba-Nya. Dia mengasihani mereka lalu Dia hantarkan kitab-kitab suci dan rasul-rasul kepada mereka untuk mengingatkan mereka tentang asal usul mereka.
“Dan Sesungguhnya Kami telah utuskan Musa (membawa) ayat-ayat Kami (sambil Kami mengatakan): hendaklah kamu keluarkan kaum kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah”. (Surah Ibrahim, ayat 5)

Iaitu ‘ingatkan roh-roh tentang hari-hari di mana mereka tidak terpisah dengan Allah’.
Ramai rasul-rasul telah datang ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka dan kemudian meninggalkan dunia ini. Tujuan semua itu adalah membawa kepada manusia perutusan, peringatan serta menyedarkan manusia dari kelalaian mereka. Tetapi mereka yang mengingati-Nya, yang kembali kepada-Nya, manusia yang ingin kembali kepada asal usul mereka, menjadi semakin berkurangan dan terus berkurangan ditelan zaman.
Nabi-nabi terus diutuskan dan perutusan suci berterusan sehingga muncul roh Muhammad yang mulia, yang terakhir di kalangan nabi-nabi, yang menyelamatkan manusia daripada kehancuran dan kelalaian. Allah Yang Maha Tinggi mengutuskannya untuk membuka  mata manusia iaitu membuka mata hati yang ketiduran. Tujuannya ialah mengejutkan manusia dari kelalaian dan ketidaksedaran dan untuk menyatukan mereka dengan keindahan yang abadi, dengan penyebab, dengan Zat Allah. Allah berfirman:
“Katakan: Inilah jalanku yang aku dan orang-orang yang mengikuti daku kepada Allah dengan pandangan yang jelas (basirah)”. (Surah Yusuf, ayat 108).
Ia menyatakan jalan Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w dalam menunjukkan tujuan kita telah bersabda, “Sahabat-sahabatku adalah umpama bintang di langit. Sesiapa daripada mereka yang kamu ikuti kamu akan temui jalan yang benar”.
Pandangan yang jelas (basirah) datangnya daripada mata kepada roh. Mata ini terbuka di dalam jantung hati orang-orang yang hampir dengan Allah, yang menjadi sahabat Allah. Semua ilmu di dalam dunia ini tidak akan mendatangkan pandangan dalam (basirah). Seseorang itu memerlukan pengetahuan yang datangnya daripada alam ghaib yang tersembunyi pengetahuan yang mengalir daripada kesedaran Ilahi. 
“Dan Kami telah  ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami (ilmu laduni)”. (Surah Kahfi, ayat 65).
Apa yang perlu seseorang lakukan ialah mencari orang yang mempunyai pandangan dalam (basirah) yang mata hatinya celik, dan cetusan serta perangsang daripada orang yang seperti ini adalah perlu. Guru yang demikian, yang dapat memupuk pengetahuan orang lain, mestilah seorang yang hampir dengan Allah dan berupaya menyaksikan alam mutlak.
Wahai anak-anak Adam, saudara-saudara dan saudari-saudari! Bangunlah dan bertaubatlah kerana melalui taubat kamu akan memohon kepada Tuhan agar dikurniakan-Nya kepada kamu hikmah-Nya. Berusaha dan berjuanglah. Allah memerintahkan:
“Dan berlumba-lumbalah kepada keampunan Tuhan kamu dan syurga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang berbakti. Yang menderma di waktu senang dan susah, dan menahan marah, dan memaafkan manusia, dan Allah kasih kepada mereka yang berbuat kebajikan”. (Surah Imraan, ayat 133 & 134).
Masuklah kepada jalan itu dan bergabunglah dengan kafilah kerohanian untuk kembali kepada Tuhan kamu. Pada satu masa nanti jalan tersebut tidak dapat dilalui lagi dan pengembara pada jalan tersebut tidak ada lagi. Kita tidak datang ke bumi ini untuk merosakkan dunia ini. Kita dihantar ke mari bukan untuk makan, minum dan berak. Roh penghulu kita menyaksikan kita. Baginda s.a.w berdukacita melihat keadaan kamu. Baginda  s.a.w telah mengetahui apa yang akan berlaku kemudian hari apabila baginda s.a.w bersabda, “Dukacitaku adalah untuk umat yang aku kasihi yang akan datang kemudian”.
Apa sahaja yang datang kepada kamu datang dalam keadaan salah satu bentuk, secara nyata atau tersembunyi; nyata dalam bentuk peraturan syarikat dan tersembunyi dalam bentuk hikmah kebijaksanaan atau makrifat. Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan kita supaya mensejahterakan zahir kita dengan mematuhi peraturan syarikat dan meletakkan batin kita dalam keadaan yang baik dan teratur dengan memperolehi hikmah kebijaksanaan atau makrifat. Bila zahir dan batin kita menjadi satu dan hikmah kebijaksanaan atau makrifat dengan peraturan agama (syarikat) bersatu, seseorang itu sampai kepada makam yang sebenarnya (hakikat).
“Dia alirkan dua laut, padahal kedua-duanya bertemu. Antara dua itu ada dinding yang kedua-duanya tidak mampu melewatinya”. (Surah Imraan, ayat 19 & 20).
Kedua-duanya mesti menjadi satu. Kebenaran atau hakikat tidak akan diperolehi dengan hanya menggunakan pengetahuan melalui pancaindera dan deria-deria tentang alam kebendaan. Dengan cara tersebut tidak mungkin mencapai matlamat, sumber, iaitu Zat. Ibadat dan penyembahan memerlukan kedua-duanya iaitu peraturan syarikat dan makrifat. Allah berfirman tentang ibadat:
“Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku”. (Surah Dzaariyat, ayat 56).
Dalam lain perkataan, ‘mereka diciptakan supaya mengenali Daku’. Jika seseorang tidak mengenali-Nya bagaimana dia boleh memuji-Nya dengan sebenar-benarnya, meminta pertolongan-Nya dan berkhidmat kepada-Nya?
Makrifat yang diperlukan bagi mengenali-Nya boleh dicapai dengan menyingkap tabir hitam yang menutupi cermin hati seseorang, menyucikannya sehingga bersih dan menggilapkannya sehingga bercahaya. Kemudian perbendaharaan keindahan yang tersembunyi akan memancar pada rahsia cermin hati.
Allah Yang Maha Tinggi telah berfirman melalui rasul-Nya:
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku suka dikenali, lalu Aku ciptakan makhluk supaya Aku dikenali”.

Tujuan suci diciptakan manusia ialah supaya mereka mengenali Allah, memperolehi makrifat. Ada dua peringkat makrifat yang suci. Seseorang itu perlu mengenali sifat-sifat Allah dan dalil-dalil yang menjadi kenyataan atau penzahiran bagi sifat-sifat tersebut. Satu lagi ialah mengenali Zat Allah. Di dalam mengenali sifat-sifat Allah manusia secara zahirnya dapat menikmati kedua-duanya iaitu dunia dan akhirat. Makrifat yang memimpin kepada Zat Allah tidak diperolehi dengan diri zahir manusia. Ia terjadi di dalam jiwa atau roh suci manusia yang berada di dalam dirinya yang zahir ini.
“Dan Kami telah perkuatkan dia (Isa) dengan roh kudus”. (Surah Baqarah, ayat 87).
Orang yang mengenali Zat Allah menemui kuasa ini melalui roh kudus (suci) yang dikurniakan kepada mereka.
Kedua-dua makrifat tersebut diperolehi dengan hikmah kebijaksanaan yang mempunyai dua aspek; hikmah kebijaksanaan kerohanian yang di dalam dan pengetahuan zahir tentang benda-benda nyata. Kedua-duanya diperlukan untuk mendapatkaan kebaikan. Nabi s.a.w bersabda, “Pengetahuan ada dua bahagian. Satu pada lidah yang menjadi dalil tentang kewujudan Allah, satu lagi di dalam hati manusia. Inilah yang diperlukan bagi melaksanakan harapan kita”.
Pada peringkat permulaannya seseorang itu memerlukan pengetahuan syarikat. Ini memerlukan pendidikan yang mengenalkan dalil-dalil luar tentang Zat Allah yang menyata di dalam alam sifat-sifat dan nama-nama ini. Apabila bidang ini telah sempurna sampailah giliran pendidikan kerohanian tentang rahsia-rahsia, di mana seseorang itu masuk ke dalam bidang makrifat yang murni untuk mengetahui yang sebenarnya (hakikat).
Pada peringkat yang pertama seseorang itu mestilah meninggalkan segala-galanya yang tidak dipersetujui oleh syariat malah, kesilapan di dalam melakukan perbuatan yang baik mestilah dihapuskan. Perbuatan yang baik mestilah dilakukan dengan cara yang betul, sebagaimana keperluan pada jalan sufi. Keadaan ini boleh dicapai dengan melatihkan diri dengan melakukan perkara-perkara yang tidak dipersetujui oleh ego diri sendiri dan melakukan amalan yang bertentangan dengan kehendak hawa nafsu. Berhati-hatilah di dalam beramal agar amalan itu dilakukan bukan untuk dipertontonkan atau diperdengarkan kepada orang lain. Semuanya mestilah dilakukan semata-mata kerana Allah, demi mencari keredaan-Nya. Allah berfirman:
“Barangsiapa berharap menemui Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal salih dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu dengan Allah dalam ibadatnya kepada Tuhannya”. (Surah Kahfi, ayat 110).
Apa yang dihuraikan sebagai daerah makrifat itu adalah tahap penghabisan bagi daerah kejadian yang pertama. Ia adalah permulaan dan merupakan rumah yang setiap orang kembali ke sana. Di samalah roh suci dijadikan. Apa yang dimaksudkan dengan roh suci adalah roh insan. Ia dijadikan dalam bentuk yang paling baik.
Kebenaran atau hakikat tersebut telah ditanam di tengah-tengah hati sebagai amanah Allah, diamanahkan kepada manusia agar disimpan dengan selamat. Ia bangkit dan menyata melalui taubat yang sungguh-sungguh dan usaha sebenar mempelajari agama. Keindahannya akan memancar ke permukaan apabila seseorang itu mengingati Allah terus menerus, mengulangi kalimah “La ilaha illah Llah”. Pada mulanya kalimah ini diucapkan dengan lidah. Bila hati sudah hidup ia diucapkan di dalam, dengan hati.
Sufi menggambarkan keadaan kerohanian yang demikian dengan menganggapnya sebagai bayi, iaitu bayi yang lahir di dalam hati, dibela dan dibesarkan di sana. Hati memainkan peranan seperti ibu, melahirkannya, menyusun, memberi makan dan memeliharanya. Jika anak-anak diajarkan kepakaran keduniaan untuk kebaikannya, bayi hati pula diajarkan makrifat rohani.
Sebagaimana kanak-kanak bersih daripada dosa, bayi hati adalah tulen, bebas daripada kelalaian, ego dan ragu-ragu. Kesucian bayi biasanya menyata dalam bentuk zahir yang cantik.
Dalam mimpi, kesucian dan ketulenan bayi hati muncul dalam rupa malaikat. Manusia berharap mendapat ganjaran syurga sebagai balasan kepada perbuatan baik tetapi hadiah-hadiah yang didatangi dari syurga didatangkan ke mari melalui tangan-tangan bayi hati.
“Dalam kebun-kebun kenikmatan…melayani mereka anak-anak muda yang tidak berubah keadaan mereka”. (Surah Waqi’ah, ayat 12 – 17 ).
“Melayani mereka adalah anak-anak muda laksana mutiara yang tersimpan”. (Surah Tur, ayat 24).
Mereka adalah anak-anak kepada hati, menurut yang diilhamkan kepada sufi, dipanggil anak-anak kerana keelokan dan ketulenan mereka. Keindahan dan ketulenan mereka menyata dalam kewujudan zahir, dalam darah daging, dalam bentuk manusia. Oleh kerana keelokan dan kelembutan sifatnya ia dinamakan anak-anak hati, tetapi dia adalah manusia sejati yang mampu mengubah bentuk kejadian atau ciptaan kerana dia berhubung erat dengan Pencipta sendiri. Dia adalah wakil sebenar kemanusiaan. Di dalam kesedarannya tidak ada sesuatu malah dia tidak melihat dirinya sebagai sesuatu. Tiada hijab, tiada halangan di antara kewujudannya dengan Zat Allah.
Nabi Muhammad s.a.w menggambarkan suasana demikian sebagaimana sabda baginda s.a.w, “Ada masa aku dengan Allah di mana tiada malaikat yang hampir dan tidak juga nabi yang diutus”. Maksud ‘nabi’ di sini ialah kewujudan lahiriah yang sementara bagi Rasulullah s.a.w sendiri.
Malaikat yang paling hampir dengan Allah ialah cahaya suci Muhammad s.a.w, kejadian pertama. Dalam suasana kerohanian itu baginda s.a.w sangat hampir dengan Allah sehingga wujud zahirnya dan rohnya tidak berkesempatan menghijabkannya dengan Allah. Baginda s.a.w menggambarkan lagi suasana demikian, “Ada syurga Allah yang tidak ada mahligai dan taman-taman atau sungai madu dan susu, syurga yang di dalamnya seseorang hanya menyaksikan Wajah Allah Yang Maha Suci”. Allah s.w.t berfirman:
“Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya dia memandang”. (Surah Qiamat, ayat 22 & 23).
Pada suasana atau makam tersebut jika seseorang makhluk termasuklah malaikat mendekatinya kewujudan badannya akan terbakar menjadi abu. Allah s.w.t berfirman melalui rasul-Nya:
“Jika Aku bukakan penutup sifat keperkasaan-Ku dengan bukaan yang sangat sedikit sahaja, semua akan terbakar sejauh yang dilihat oleh pandangan-Ku”.
Jibrail yang menemani Nabi Muhamamd s.a.w pada malam mikraj, apabila sampai di Sidratul Muntaha, telah mengatakan jika dia melangkah satu langkah sahaja lagi dia akan terbakar menjadi abu.
 


bersambung


Offline unsiuman

  • Leftenan Muda
  • *
  • Posts: 584
  • Karma: +3/-5
  • Last Login:February 23, 2008, 05:08:46 PM

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #9 on: February 04, 2008, 10:25:06 PM »
Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)


Jangan salahkan Ia bila Ia menangguhkan penerimaan doamu. Jangan jemu
berdoa. Sebab, sesungguhnya jika kau tak memperoleh, kau juga tak
rugi. Jika Ia tak segera menerima doamu di kehidupan duniawi ini,
maka Ia akan menyisihkan bagimu pahala di kehidupan kelak. Nabi
bersabda bahwa pada Hari Kebangkitan hamba-hamba Allah akan mendapati
dalam kitab amalannya amal-amal yang tak dikenalinya. Lalu, kepadanya
dikatakan bahwa itu adalah balasan dari doa-doanya di kehidupan
duniawinya yang tak dikabulkan.
Maka dari itu, ingatlah selalu
Tuhanmu, esakanlah Ia selalu dalam memohon sesuatu dari-Nya. Jangan
memohon kepada selain-Nya. Maka, setiap saat, baik siang maupun
malam, sehat atau sakit, suka atau duka, kau berada dalam keadaan:



ini yg saya rasa banyak org tak tahu... dan banyak juga org yg lemah berputus asa dan kecewa disebabkan doa yg tak dimakbul.
Lama juga ana mencarikan hadis ini../.Alhamdulillah...TQ Abu Mukmin... :biggrin5:

Offline belagak

  • Laksamana Muda
  • *
  • Posts: 4657
  • Karma: +118/-91
  • Last Login:December 27, 2009, 08:42:58 AM

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #10 on: February 05, 2008, 10:46:56 AM »
Sebab itu dikatakan DOA yg Baik mesti Makbul cuma yg membezakan bila dan dimana .... :biggrin5:
darulsaka.blogspot.com

Offline unsiuman

  • Leftenan Muda
  • *
  • Posts: 584
  • Karma: +3/-5
  • Last Login:February 23, 2008, 05:08:46 PM

  • Activity
    0%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #11 on: February 05, 2008, 12:45:14 PM »
Sebab itu dikatakan DOA yg Baik mesti Makbul cuma yg membezakan bila dan dimana .... :biggrin5:
Allah maqbul x doa yg tidak baik?..... :smile5:

Offline ***abg comei***

  • Laksamana Muda
  • *
  • Posts: 4993
  • Karma: +24/-8
  • Gender: Male
  • Last Login:June 09, 2011, 12:43:13 PM
  • Allahuakbar!!....

  • Activity
    0%
    • "Pencarian Ilmu Satu Perjuangan"
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #12 on: February 06, 2008, 09:58:17 PM »
teringat saya kisah si tanggang yang jadi the rock......ibunya yang berdoa kepada Allah......Na'uzubillah.....
[IMG]

Offline sάhάjά

  • Laksamana Pertama
  • *
  • Posts: 2542
  • Karma: +26/-22
  • Last Login:Today at 12:56:30 PM

  • Activity
    1.6%
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #13 on: December 17, 2009, 03:23:05 PM »
Kalau Sirr us-Sirr memang ia suatu karya tulisan Sheikh. Yg lain tu majoritinya ialah catatan murid2 dari majlis syarahan beliau...: Hmm... siapa boleh beri contoh lain suatu kitab original yg Sheikh karang complete satu kitab...? :ihih:

 :scool: Si Pincang
Fortiter Fideliter Forsan Feliciter

Offline ***abg comei***

  • Laksamana Muda
  • *
  • Posts: 4993
  • Karma: +24/-8
  • Gender: Male
  • Last Login:June 09, 2011, 12:43:13 PM
  • Allahuakbar!!....

  • Activity
    0%
    • "Pencarian Ilmu Satu Perjuangan"
Re: Karya Syeikh Abd. Qadir Jaelani (77)
« Reply #14 on: December 17, 2009, 11:01:45 PM »
den ado satu salinan kitab tulisan tangan.....dikhabarkan ianya tulisan tangan tokku paloh....entah la....bila den baca sampai habis.....tertulis - salam kedua selepas salam pertama ketika solat diniatkan salam kepada Rasulullah.....den tak pasti la original ke tak.....wallahua'lam..... :scool:
[IMG]